Ayah Kandung Panji Tengkorak
May 6, 2009
SIAPA pun Anda, yang sudah melek huruf di tahun 1970-an, pasti tak akan lupa dengan nama satu ini: Panji Tengkorak. Inilah sosok yang menjadi bagian dari kehidupan remaja di akhir 1960-an. Dan, tak pelak lagi, nama penciptanya pun menjadi identik, dialah Hans Jaladara.
Hans adalah salah satu dari 7 “pendekar” komik Indonesia di masanya, selain Jan Mintaraga, Ganes Th, Sim, Zaldy, Djair, dan Teguh Santosa. Dari 7 pendekar itu, hanya Hans dan Djair yang masih bertahan. Selebihnya, telah tunduk di depan maut.
Panji Tengkorak yang terdiri dari 5 jilid, boleh dikatakan karya masterpiece Hans. Meski karya lain, Walet Merah, Si Rase Terbang juga meraih popularitas. Setelah Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes Th, hanya karya Hans itulah yang mampu menyamainya, difilmkan, bahkan sampai mengundang aktris Taiwan Shan Kuang Ling Fung sebagai Dewi Bunga.
“Setelah Si Buta… populer, sebuah penerbit meminta saya membuat cerita serupa Jan. Tapi saya tak mampu meniru. Saya buat Panji, meski tetap saja banyak yang melihat mirip karya Jan,” cerita Hans, sebagaimana dikutip Kompas.
Ia pun membuat tokok yang anti-si Buta, Badra Mandrawata. Jika si Buta berambut panjang, Panji pendek. Si Buta rapi berbaju kulit ular, Panji compang camping. Si Buta membawa wanara, Panji menyeret keranda. Semua berbeda.
Banyak yang menilai, Panji adalah campuran koboi Italia dan silat Cina masa itu. Bahkan, adegan menyeret keranda, adalah peniruan dari film A Coffin for Jango yang dibintangi Franco Nero.
Tiga versi panji
Hans Jaladara bernama KTP Hans Rianto, kelahiran Yogyakarta 1947, anak kedua dari keluarga Linggodigdo. Nama Jaladara baru ia pakai di awal 1970, karena ada yang meniru namanya. Ia ambil Jaladara dari komik wayang karya Ardi Soma, Wiku Paksi Jaladara.
Ayah Hans adalah guru bahasa Inggris, yang memperkenalkan Shakespeare. Ia bahkan hapal pidato Mark Anthony dalam Julius Caesar itu. Ia pun mewarisi bakat melukis.
“Sampai ditimpuk Bu Guru, karena di sekolah menggambar terus,” kenangnya.
Kebiasaan membaca meliarkan imajinasinya. Melihat pengemis, kadang ia berpikir itu orang sakti yang sedang menyamar. Untuk adegan silat komiknya, ia mempertanggungjawabkannya. Maklum, ia belajar kungfu di Cheng BU Mangga Besar, dan belajar Judo pada Tjoa Kek Tiong.
Hans mulai berkomik sejak 1966, Hanya Kemarin yang diilhami film Hollywood Only Yesterday. Honornya kecil. Namun, saat Panji jaya, satu naskahnya sama dengan satu ons emas.
Namun itu tak lama. 1975, ia menurun. Komik mulai kalah saing. Ia masih bertahan dengan melahirkan Durjana Pemetik Bunga. Tapi, 1987, ia tersungkur. “Bikin komik, hasilnya tak seberapa. Temen-temen lain sudah lari, cari usaha lain. Sim misalnya, jauh hari sudah jadi wartawan,” kenangnya.
Untuk bertahan hidup, ia pindah ke Kebumen, 1978-1983, dan 1988-1994. Istrinya, Risnawati, membuka salon. Ia membeli truk dan pikup, tapi bangkrut. Membeli sedan ikut taksi gelap, malah tertangkap. “Jiwa saya memang tidak untuk dagang.” Ia tertawa.
Selama di Kebumen itu, dia masih mengirim naskah ke Jakarta, meski hasilnya sangat kecil, tak dapat diharapkan menjadi sumber penghidupan. Daya gembur komik Jepang tak dapat ia hadapi.
Namun, dalam “dunia persilatan” yang kacau itu, Hans akhirnya melahirkan “tiga Panji”, setidaknya di mata pengamat komik, Seno Gumira Ajidarma. Pertama, Panji Tengkorak 1968. “Adegan perkelahian silatnya melahirkan gambar koreografi yang artistik. Para petarung bergerak bagai penari, bentuk dan gerakan tubuh ditata harmonis. Ia tak mengacu pada pentuk baladiri mana pun, setia pada imajinasinya,” nilai Seno di situs komikaze.
Panji kedua, 1985. Hans sudah terpengaruh Jepang. Gerakan silat pertarungan, khas kungfu baku, seolah diambil dari buku petunjuk. Kostum bajak laut 1968, jadi bajak laut Jepang 1980-an. “Terjadi degradasi di segala aspek, mengurangi teks, mengosongkan ruang gambar.” Hans mulai diikat pasar.
Tapi, kehancuran Panji di mata Seno, terjadi saat Hans menggambar ulang untuk ketiga kali, 1996. “Semua gaya mengadopsi sepenuhnya pada komik Jepang. Mata yang membelalak dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar, teks yang pendek. Hans Jaladara yang jago dalam detail dan imajinasi, seperti pelukis yang dikebiri,” kecam Seno.
“Tak ada lagi pendekar bercaping yang berjalan di lembah sunyi, rimbun dan berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tak ada lagi gerobak eksotik yang berderak lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Juga pertarungan yang artistik dalam siluet hitam membayang. Tak ada lagi drama. Ibarat kata, Panji Tengkorak cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa. Yang tersisa hanya kostum genit dari pertunujukan yang gagal!”
Pengakuan Hans: semua atas pesanan penerbit.
Perubahan drastis itu tetap saja tak berpengaruh apa-apa pada pasar. Komik itu tak juga laku, apalagi meledak. Inilah yang dinilai Seno, kesalahan kategoris dalam “mengangkat kembali” komik Indonesia. Karena komik kemudian berubah mengikuti selera pasar, bukan kembali ke asalnya, artistik semula, dengan strategi pasar yang baru. Untunglah, telah ada penerbit dari Yogya, yang akan menerbitkan serial Panji dalam bentuk aslinya.
Kelesuan komik itu membuat Hans berusaha menaikkan profesi, jadi pelukis. Tapi sudah terlambat. Beberapa kali mengikuti pameran, nasibnya tak kunjung beranjak. Ia datang di saat yang tak tepat, ketika booming lukisan sudah redup, tak seperti di awal 1990-an.
Kini, sejak 1995 ia kembali ke Jakarta, menempati rumah di kawasan Lippo Cikarang, 30 kilometer sebelah timur Jakarta. Ia masih aktif berkomik di majalah Kita, mengasuk rubrik “Mari Menggambar bersama Pak Hans”, dan membuat serial Kita dan Tata. Tiga kali seminggu, ia mengajar menggambar di SD, SMP, dan SMU Pelita Harapan.
Apa pun kecemerlangan dan kesuraman masa komik Hans, kini, dengan tunjangan usaha istri, ia telah memiliki rumah, dan anak yang sukses bersekolah. Putrinya, Maureen Maybelle (26) sarjana sastra Inggris UKI, dan Elizabeth Visandra, masih kuliah di desain grafis Tarumanegara, mengikuti jejak ayahnya.
Hans apa boleh buat, ibarat pesilat yang telah terlanjur masuk dunia persilatan. Tak ada lagi jalan mundur. Bertarung atau mati. Maka, ia pun tetap berkelana, dalam dunia yang mulai dilupakan….
Anak Raja Berjiwa Tentara
March 23, 2009
SEUSAI sidang Dewan Siasat Militer yang dihadiri Soedirman, Gatot Subroto, dan Sungkono, di tahun 1948, Bung Karno memanggil Djatikusomo. Di ruangannya, wajah Bung Karno tampak keruh.
“Lain kali, kalau rapat dewan Siasat Militer, jangan ajak Gatot Subroto,” perintah Bung Karno.
“Kenapa?” tanya Djatikusumo.
“Aku ndak mengerti jalan pikirannya.”
Djatikusumo tersenyum.
Dalam jajaran petinggi militer saat itu, Djatikusumo memang punya posisi penting. Dia acap diminta menghadiri rapat-rapat penting oleh Jenderal Soedirman. Alasan Soedirman sepele: hanya dengan mengikutsertakan Djatikusumo, dia dan beberapa jenderal lain dapat memahami pikiran Bung Karno, Syahrir, Hatta, dan anggota kabinet lain.
“Saya akui, Bung Karno, Hatta, dan Syahrir itu memang orang hebat. Pikiran-pikirannya cemerlang. Para jenderal semacam Soedirman yang hanya guru, Gatot Subroto dan Sungkono yang hanya tamat sekolah dasar, sering sulit memahami pikiran mereka. Saya jembatan bagi mereka untuk memahami jalan pikiran tokoh-tokoh hebat itu,” aku Djatikusumo, sebagaimana dikutip Tempo.
Dalam rapat Dewan Siasat Militer itu juga, para petinggi negara yakin, Belanda akan menyerang Indonesia. Bung Karno menghendaki, militer membentuk wadah angkatan. Dan karena dianggap sebagai tokoh yang paling tepat, Bung Karno menunjuk Djatikusumo menjadi Kepala Staf Angkaran Darat RI, untuk pertama kali (1 Maret 1948-1 Mei 1950).
Perang adalah Guru Terbaik
Djatikusumo lahir 1 Juli 1917, atau tepat hari ke-11 Ramadan, di kedaton Surakarta. Ayahnya adalah Susuhunan Paku Buwono X. Ibunya bernama Kirono Rukmi, garwa ampeyan Sri Susuhunan, bukan permaisuri. Karena itu, berdasarkan asal ibunya yang dari desa Kajoran, di selatan Klaten, Djatikusumo lebih merasa sebagai orang desa.
“Lingkungan kraton dan desa, kelak membentuk watak saya menjadi bangsawan sekaligus rakyat,” akunya, di Mei 1991.
Sejak kecil, ayahnya sudah menanamkan jiwa nasionalis, dengan menceritakan penjarahan Belanda. Tapi, dengan alasan untuk lebih memahami watak Belanda, biar lebih mudah mengalahkannya, Subandono –nama kecil Djatikusumo– justru disekolahkan di Eurepesche Lagere School di Solo, 1924.
Selepas ELS 1931, Djatikusumo dikirim ke HBS di Bandung, dan dititipkan pada keluarga Belanda. Ia “menumpang” selama 8 tahun.
“Kelak, pemahaman saya pada watak, tingkah laku dan pola pikir Belanda, amat mendukung karier Militer dan perjuangan saya saat menghadapi Belanda.”
Karena tak ingin mengangkat sumpah setia pada Sri Ratu dan Konstitusi Belanda, Djatikusumo menolak masuk Akademi Militer Breda di Belanda. Dia malah memilih Institut Technologie Delf di Nederland, 1936.
Tahun 1940, saat pecah Perang Dunia II, dia pulang, dan melanjutkan studi ke ITB.
1941, karena percaya pada Jangka Jayabaya, Djati memutuskan masuk milisi Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) di Bandung. Pangkat kopral ia sandang.
Ternyata ramalan Jayabaya benar, Jepang masuk, Belanda kalah. Dan karier militer Djatikusumo dimulai. Dia masuk PETA. 8 bulan di PETA, tugas berat datang, bernegosiasi dan meminta Jepang menyerah, di Semarang.
“Saat berunding, pikiran saya hanya satu, bagaimana bisa keluar dari markas Jepang dengan selamat,” akunya pada Tempo.
Karena prestasinya, Jenderal Oerip Soemahardjo memintanya menjadi kepala divisi di Salatiga. 1946, ia menjadi Kepala Divisi Ronggolawe untuk wilayah Pati, Bojonegoro dan Muncung. Tapi, selama masa ini, hutan jadi wilayah Mantingan justru tempat yang paling berkesan bagi Djati. Di tengah hutan jati itu, dalam suasana perang, ia menikahi Raden Ayu Suharsi, wanita yang kelak memberinya tiga anak.
Agresi Belanda yang pertama pecah. Djatikusumo diminta menguasai Gresik-Lamongan. Tapi, para prajurit yang ia pimpin justru kecut, dan hampir mogok perang. Djatikusumo meradang.
“Mencari musuh itu malah susah. Sekarang, ketika musuh ada di depan mata, kalian malah kecut. Gugur dalam perang adalah hal yang biasa. Guru terbaik bagi prajurit adalah perang itu sendiri. Maju!”
Karena prestasinya, Soedirman menariknya ke Yogya. Dan di sinilah, Djatikusumo mulai berkenalan dengan petinggi negara, Hatta dan Soekarno, sampai ia diminta menjadi KSAD.
Tahun 1950, saat RI menjadi RIS, Djatikusumo adalah saksi hidup kekacauan sistem pemerintahan itu. Sistem federal ternyata tak jalan, dan Bung Karno lebih berkuasa daripada perdana menteri. Bahkan, banyak politisi yang tak tahu harus melakukan apa, termasuk membentuk kabinet. Pada saat itulah, Bung Karno mengeluarkan Surat Keputusan: “Presiden Republik Indonesia Sukarno, dengan ini menunjuk warga negara Indonesia Sukarno untuk membentuk kabinet.”
Atas kekacauan konstitusi itulah, Djatikusumo berinisiatif mengumpulkan para petinggi militer, dan mengusulkan kemungkinan Indonesia kembali memakai UUD 1945.
Kekacauan inilah yang membuat meriam dan tank akhirnya mengarah ke Istana, dan TNI mendesak Bung Karno untuk kembali ke UUD 1945. Tapi, para politisi menolak. Akhirnya, Bung karno mengambil tindakan, memecat AH Nasution dan Gatot Subroto sebagai KSAD dan wakil KSAD, dan melemparkan Jenderal Mokoginta, perancang utama Peristiwa 17 Oktober 1950 itu, ke Amerika, bersekolah ke Port Levenberg.
Djatikusumo sendiri terkena imbasnya, dan dicopot dari jabatannnya sebagai Kepala Biro Perancang Operasi TNI, dan ditugaskan sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Ia kemudian dipindah lagi menjadi Direktur Zeni AD, dan ikut aktif menyelesaikan masalah pemberontakan PRRI/Permesta. Sebagai Direktur Zeni inilah, Djati kembali memiliki pasukan, yang salah seorang diantaranya Try Sutrisno, yang sepanjang pengamatannya, tak punya kapasitas istimewa.
Djati kemudian menjadi Dubes di Malaysia. Sayang, hanya 100 hari ia di sana. Konfrontasi Indonesia-Malaysia, membuat karier politiknya nyaris tamat. Terakhir, ia menjadi Dubes Luar Biasa untuk Maroko. Dan di saat jauh dari pusat kekuasaan inilah, dia tak menyaksikan, kejatuhan Bung Karno, orang yang amat ia kagumi.
Semasa Soeharto, ia diangkat menjadi anggota DPA, juga merangkap anggota Tim-BP7. Di masa tua, ia pun mulai berbisnis, merambah bidang yang luas, dari telekomunikasi, perkayuan, sampai konstruktor.
“Ini karena pensiun saya sebagai jenderal, tak cukup untuk hidup,” katanya, sambil menjelaskan uang pensiunnya yang hanya Rp 300 ribu perbulan, di tahun 1991.
Sabtu, 5 Juli 1992, saksi sejarah, dan KSAD RI pertama ini meninggal dunia, di tengah 5 orang cucunya.
Selalu Dibuang Tangan Kekuasaan
March 9, 2009
PERISTIWA 17 Oktober 1952, tentang serangkaian aksi angkatan darat yang mengarahkan meriam ke Istana, sampai saat ini masih menjadi misteri. Tapi satu yang nyata dari peristiwa itu adalah tersiarnya isu kudeta oleh Kolonel Abdul Haris Nasution, yang membuat ia dipecat sebagai Kasad, dan dimahkamahmiliterkan. Padahal, Nasution hanya korban dari intrik “sandiwara” politik itu.
“Saya kemudian dipecat, November 1952, semasa kabinet Wilopo. Secara institusional, sayalah yang bertanggung jawab atas peristiwa itu,” akunya pada Tempo, 12 tahun sebelum kematiannya.
Sebelum peristiwa itu, sebelumnya Angkatan darat telah mengirim petisi kepada Presiden untuk membubarkan parlemen, yang kekuasaannya amat besar, sehingga turut campur dalam urusan internal kemiliteran. Petisi itu disusun di kamar kerja Nasution, dan karena semua kepala divisi menandatangani, Nasution pun ikut.
Kemudian, “sandiwara” 17 Oktober pun dimulai.
Malam sebelum tanggal itu, Nasution mengirim Kolonel Mustopo kepada presiden Sukarno. Dia melaporkan bahwa pada esok harinya, akan ada demonstasi Angkatan Darat ke Istana, dengan tujuan presurre, memakai tank, panser, supaya presiden mau membubarkan parlemen. Ini hanya semacam “permainan” politik. Karena itu, pengiriman Moestopo diharapkan Nasution supaya Presiden tak kaget. Hasil pertemuan dengan Presiden pun kemudian dilaporkan Moestopo pada Nasution.
Tapi sandiwara itu tak sepenuhnya berhasil.
Tanpa perintah Nasution, pasukan mengarahkan meriam ke Istana. Nasution kaget. Tapi, ketika dia tahu kepala pasukan Jakarta adalah Kemal Idris, yang tak menyukai Sukarno, dia bisa mengerti.
Nasution kemudian menghadap Sukarno, yang telah didampingi Hatta, Sri Sultan, dan Wilopo, serta TB Simatupang. Presiden tampak santai, bahkan acap tersenyum, meskipun Simbolon, terutama Kawilarang, memberikan pernyataan yang keras atas “politik” yang dimainkan parlemen.
Dan Bung Karno tetap tak mau membubarkan parlemen, atas nama Undang-Undang Dasar.
“Sandiwara” ini baru meminta korban beberapa hari kemudian, saat Kolonel Zulkifli Lubis, Kepala Biro Informasi Angkatan Perang di Hankam, membuat laporan, “Waktu menghadap Presiden, Kasad Nasution menuntut supaya negara dinyatakan dalam keadaan bahaya.” Laporan itu kemudian melanjutkan, Presiden menjawab, “Baiklah, kalau saya yang memegang kekuasaan, saya akan pecat kamu.”
Padahal, dalam pertemuan itu, Zulkifli tidak hadir. Nasution menduga, laporan itu bagian dari permainan Bung Karno. Laporan itu dikirim ke daerah-daerah, dan militer bersepakat, Nasution berencana kudeta! Mahkamah militer pun digelar.
Nasution pun dipecat, dan posisinya sebagai Kasad diserahkan pada Mayor Jenderal Bambang Sugeng.
Guru yang menjadi Prajurit
Sewaktu kecil, kakek Nasution mengharapkan dia menjadi seorang pendekar silat, meneruskan jejaknya. Tapi, Ayahnya, justru selalu mengharapkannya jadi kiai. Dari ibunya, dia selalu diobsesikan menjadi dokter. Nasution bingung, apalagi ketiga orang yang amat dia sayangi itu, selalu bersikeras dengan keinginannya. Nasution sendiri, lebih bersetuju dengan keinginan ibunya.
Umur 7 tahun, Nasution masuk HIS, dan sorenya, harus masuk maktab, semacam pesantren, belajar agama. Guru yang amat keras di pesantren itu adalah ayah Nasution sendiri.
Kampung Nasution, Kotanopan, Tapanuli, Sumatera Timur, adalah basis pergerakan Syarikat Islam. Ayahnya, terutama pamannya, Syeikh Musthafa, adalah pendiri Pesantren Purba, pesantren tertua di Sumatera Timur, yang saat itu menjadi basis pergerakan melawan Belanda. Lingkup pergaulan inilah yang membuat Nasution kental dengan semangat nasionalisme.
Tapi, yang mempengaruhi jiwa Nasution adalah Kemal Attaturk. Saat itu, di Kotanopan, pemimpin Turki ini menjadi semacam ikon perlawanan.
Selepas HIS, dia masuk sekolah guru. “Posisi menjadi guru saat itu amat dihormati. Kelak, saat gerilya semasa Agresi Belanda di Jawa, saya juga tahu, posisi guru pun sangat dihormati,” kenangnya.
Sekolah guru saat itu hanya ada di Bukittinggi. Dan di sanalah Nasution sekolah, sekaligus “berkenalan” dengan Bung Karno, melalui serangkuman pujian dari tokoh pergerakan saat itu.
“Bung Karno amat dipuja di Bukittinggi, foto-fotonya dicetak dengan posisi sedang berpikir keras, dengan pena yang selalu terselip di saku bajunya,” jelasnya.
Tiga tahun di Bukittinggi, dia melanjutkan ke Bandung. Lulus, dia melamar jadi guru partekelir di Muara Dua, Bengkulu, yang membuatnya secara fisik berkenalan dengan Bung Karno, yang sedang diasingkan.
1938, Nasution diterima sekolah cadangan perwira di Bandung. Teman seangkatannya adalah Kawilarang dan Simatupang, yang juga lulus dengan prestasi tertinggi, dan diperbolehkan masuk Akademi Militer di Bandung.
11 November 1945, setelah pertempuran Surabaya, seluruh perwira militer dikumpulkan di Yogyakarta oleh Kepala staf Umum TKR. Pada saat itu disetujui untuk mengangkat panglima besar. Ada beberapa calon, yang paling populer adalah Urip Soemahardjo dan Kolonel Soedirman. Akhirnya, Kolonel Soedirman terpilih, dan tentara pecah dua, karena Urip tak menerima kekalahannya.
Pulang dari Yogya, Nasution menjadi Panglima Divisi III TKR seluruh Priangan ditambah Sukabumi dan Cianjur.
Maret 1946, karena belum memiliki pertahanan yang baik untuk melawan sekutu, laskar dan tentara di Bandung tak sudi menyerahkan Bandung, dan memilih membakar, menjadikan “Bandung Lautan Api”.
“Saya selalu terharu mengenang peristiwa itu. Lasjkar membakari sendiri barak-baraknya, rakyat membakari rumah-rumahnya, semua ikhlas, daripada jatuh ke tangan sekutu,” ucapnya dengan nada pelan.
Mei 1946, Nasution diangkat jadi Panglima Divisi I, wilayah Bandung.
Januari 1948, dalam rangka melawan Agresi Belanda, Nasution Hijrah ke Jawa Tengah. Februari ia diangkat jadi Wakil Panglima Besar Soedirman, yang saat itu mulai sakit-sakitan. Di sinilah ia menerapkan konsep membuat kantung-kantung gerilya, yang menjadi acuan semua panglima divisi, atas perintah Soedirman.
Setelah itu karier Nasution melonjak terus, sampai ia menduduki posisi Kasad saat peristiwa 17 Oktober itu terjadi.
Setelah pemberontakan PKI gagal, Supersemar keluar, dan Suharto berkuasa, status kemiliteran Nasution dipulihkan. Ia kemudian masuk wilayah politik, menjadi Ketua MPRS yang mencabut mandat Bung Karno, dan mengangkat Suharto sebagai Pejabat Presiden.
Tapi, kelak, ia juga yang menjadi “musuh” utama Suharto dengan menjadi anggota Petisi 50, dan “kebebasannya” pun dirampas. Sejarah kemudian mencatat, dalam hidupnya, Nasution memang tak pernah duduk mesra dengan pemegang kekuasaan, sampai Yang Maha Hidup memanggilnya, Mei 2001.
Juru Tafsir kebudayaan Jawa
January 2, 2009
“Skenario Illahi memang tidak dapat diduga. Tampaknya Tuhan memang menghendaki saya akhirnya berbahagia di tanah Jawa,” aku Romo Zoetmulder pada R Fajri dari Tempo, 8 tahun sebelum kematiannya.
Pengakuan di atas, sesungguhnya lebih mencitrakan betapa rendah hati sosok pemerhati budaya Jawa ini. Padahal, kehadirannya di tanah Jawa lebih membahagiakan penduduk negeri ini. Dialah tokoh yang sepanjang hidupnya suntuk mempelajari bahasa Jawa, dan selama lebih dari 30 tahun berkonsenterasi penuh demi melahirkan kamus lengkap berbahasa Jawa Kuno.
Pengabdian yang luar biasa, yang hanya muncul dari rasa kecintaan semata.
Dan cinta itu, ternyata datang dari sebuah pertemuan yang biasa.
Saat sampai di Jawa tahun 1925, ia masuk novisiat Yogyakarta. Itulah kala pertama ia belajar bahasa Jawa dari teman seangkatannya seperti Martewordoyo dan Pusposuwarto. Selepas kuliah, menjelang sore, biasanya ia akan mengajar ke desa-desa, berkendara sepeda. Wilayah pengajaranya adalah desa Sleman.
“Saya mengajarkan agama sambil duduk di tikar, dikitari para penduduk. Dalam pertemuan semacam inilah saya manfaatkan untuk belajar bahasa Jawa, dan menikmati tembang-tembang Jawa,” kenangnya.
Dari kebiasaan itulah, pelan tapi pasti, rasa cintanya pada bahasa Jawa tumbuh.
Selalu berbahagia di Jawa
Petrus Josephus Zoetmulder lahir di Utrecht Belanda, 29 Januari 1906. Tapi, dalam beberapa kesempatan, ia juga acap memakai nama Artati, padanan kata zoet yang berarti manis, atau Resi Ciptoning, nama yang ia pakai saat menyelesaikan studi Teologi di Maastricht.
Ayahnya adalah insinyur di Delft, dan ibunya adalah pemain piano profesional, yang menurunkan bakat musik padanya. Tapi, berbeda dari ibunya, Zoet malah lebih menyukai memainkan biola. Sejak kecil, Zoet telah bercita-cita menjadi imam. Tak aneh. Keluarganya tercatat sebagai katolikus yang taat. Dua pamannya adalah pastor, sedang bude dan bibinya menjadi suster di Afrika dan Suriname. Kelak, anak sulung Zoet pun menjadi pastor.
Karena telah terbiasa membaca, saat masuk SD Lagere School 1912, dia tampil menonjol, terutama dalam ilmu bahasa, sejarah dan agama. Ketika melanjutkan ke Gymnasium Kanisius College, cita-citanya untuk menjadi imam kian menguat. Zoet kemudian masuk ke Novisiat Serikat Yesus, pendidikan awal untuk Imam Jesuit, di bawah bimbingan Pater P Willekens. Pembimbingnya itu jugalah yang kemudian menugasi ia bermisi ke Jawa, 1925.
1928, Willekens menyusul ke Jawa, dan meminta Zoet untuk belajar studi Kebudayaan jawa pada Dr CC Berg, yang saat itu menetap di Solo.
“Ternyata tugas ke Jawa, adalah skenario dia untuk membuat saya mempelajari budaya Jawa. Itu yang ikut mengubah takdir saya,” ingatnya.
1931, Zoet lulus dengan predikat cumlaude, dan bersamaan dengan itu ditahbiskan sebagai calon pastor di Girisanta, Ungaran, Semarang.
7 Desember 1933, ia pun lulus sarjana Sejarah Jawa dan Purbakala dari Universitas Leiden. Gelar yang amat menonjol karena diberikan oleh CC Berg dan Snouck Hourgronje, ahli Jawa dan Islam yang tak terbantahkan reputasinya.
Tak puas dengan gelar itu, Zoet melanjutkan studi doktor. Dan 30 Oktober 1935, ia meraih gelar doktor cumlaude dengan disertasi “Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek-Litteratuur”, yang 50 tahun kemudian diterbitkan Gramedia dalam versi terjemahan, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa.
Tapi, selalu lulus cumlaude tak menjamin Zoet untuk lulus ujian mengambil SIM, sekitar tahun 1953. “Hal itu sampai ditulis wartawan Kedaulatan Rakyat, ada profesor yang tak lulus ujian rijbewijs, mengambil SIM, hahhaa….”
Saat Jepang masuk Indonesia 1942, Zoet termasuk warga Belanda yang ditahan. Tapi, dia beruntung, selama ditahan, buku dan pena masih boleh ia bawa. Saat dipindahkan ke penjara Cimahi, ia terpaksa menyeludupkan serat Adiparwa suntingan Dr HH Joynboll. Zoet berusaha menerjemahkn buku itu, dan tahun 1950, atas bantuan Poedjawiatna, buku setebal 267 halaman itu terbit dengan judul Bahasa Parwa, yang kelak menjadi acuan dasar mahasiswa studi Jawa Kuno.
1945, ia lolos dari tahanan interniran Baros, dan mulai mengajar di UGM. Dan 1950, berdasarkan SK Mendikbud, ia diangkat menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra Pedagogik, Filsafat UGM.
1955, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Sastra UGM, dan menanggalkan kewarganegaraan Belanda. Sehari-hari tugasnya menjadi lebih berat karena harus mewakili Dekan Fakultas Sastra Prof Dr RM Ng. Poerbatjaraka, yang lebih banyak berada di Jakarta. Ini masih ditambah tugas lain, menjadi guru bahasa Jawa Kuno untuk wilayah Yogya.
Pertama memberi kuliah, Zoet memakai bahasa Jawa. Tapi. kemudian dia menyadari, mahasiswanya banyak yang berada dari luar Jawa. Ia pun kemudian menulis buku panduan, Sekar Sumawur, bunga rampai prosa dalam Jawa Kuno.
“Saya keras pada mahasiswa. Jika mereka mempelajari Sekar Sumawur secara serius, saya jamin lulus. Tapi, itu bukan berarti karena mereka membeli buku saya,” katanya, dalam Basis, Maret 1980.
Semasa menjadi dosen itu, ada kenangan yang sampai menjelang ajalnya sulit ia lupakan, perdebatannya dengan mahasiswa yang berasal dari luar Jawa, yang merasa tak mampu dan menolak belajar bahasa Jawa Kuno.
“Saya bilang, saya sendiri dari Belanda, dan saya mampu. Yang terpenting kemauan dan niat. Apa pun bisa dipelajari, tak ada yang sulit.”
Ucapan Zoet ini kemudian menjadi terkenal, dan membuatnya menjadi dosen yang amat disegani.
lalu, untuk membantu kesulitan itu, Zoet bermaksud membuat kamus bahasa Jawa Kuno. Dan sejak tahun 1950 ia kerjakan. Semula ia yakin, 10 tahun adalah waktu yang ia butuhkan, tapi kenyataan bicara lain. Tugas itu berat sekali.
“Ternyata saya butuh 30 tahun untuk menyelesaikan kamus itu. Pekerjaan yang luar biasa berat,” akunya.
Kamus itu kemudian terbit, Kamus Bahasa Jawa Kuno, diikuti buku Kalangwan yang mengupas kehidupan empu dan sastra Jawa Kuno. Tentang kesulitannya, Zoet mengaku karena ia harus mengumpulkan naskah dari mikrofilm dan naskah handsbooks dari Universitas Leiden.
Di masa tuanya, ada satu hal yang acap ditanyakan orang pada Romo Zoet, yaitu apakah ia menyesal menanggalkan kewarganegawaannya? Sambil tersenyum, ia akan menjawab: “Bagi saya, sebenarnya menjadi warga negara Belanda atau Indonesia sama saja. Saya juga tak pernah merasa rindu dengan negeri Belanda… Bahkan kalau Tuhan mencabut nyawa saya, saya ingin itu terjadi di Jawa.”
Pengharapan yang kemudian memang diberikan Tuhan, yang mungkin sebagai rahmat bagi Zoet, yang selalu merasa bahagia di tanah Jawa.
Tentara Berjiwa Gereja
December 19, 2008
PERISTIWA 17 Oktober 1952, saat militer mengarahkan meriam ke Istana, tak hanya meminta korban Nasution. TB Simatupang, rekannya seangkatan di Akademi Militer Bandung pun, yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), terkena imbas. Ia dipecat, dan dipensiunkan, saat masih berusia 39 tahun.
Awal masalah besar di tubuh militer itu adalah keinginan Nasution dan Simatupang untuk membentuk militer yang profesional. Kedua orang ini yakin, hanya dengan cara itu, militer tak akan masuk dalam garis PKI.
Tapi, parlemen justru memandang lain, dan mengkritik kebijakan itu, bahkan “mengobok-obok” persoalan internal militer. Hal ituilah yang membuat militer marah, dan meminta presiden membubarkan DPR melalui aksi 17 Oktober itu, yang sebenarnya merupakan sandiwara politik, karena Bung Karno telah tahu skenario itu.
Tapi, ulah seorang kolonel, Bambang Supeno, membuat skenario itu berubah. Bung Karno yang dibuat percaya bahwa militer tak lagi mendukung kepemimpinan Nasution, berhasrat memecatnya. Simatupang bereaksi.
“Saya marah. Bersama Nasution, dan Menteri Pertahanan Hamengku Buwono, kami datangi Presiden. Kami jelaskan yang sebenarnya. Saya tak setuju keinginannya untuk memecat Nasution. Selama saya KSAP, tak akan ada pemecatan itu!” kenang Tahi Bonar Simatupang, saat diinterview Tempo, beberapa tahun sebelum kematiannya.
Tapi ia kalah. Nasution dipecat, bahkan dimahkamahmiliterkan. Simatupang menjadi saksi.
“Saya katakan, jika kami memang ingin kup, pasti militer akan menang. Jakarta sudah kami kuasai. Jadi, tak ada itu keinginan kup. Saya jelaskan keinginan kami, agar pemilu dipercepat, untuk mewujudkan DPR yang representatif,” jelasnya.
Kesaksiannya tak didengar. Bahkan, melalui mosi tak percaya Manai Sophian, seluruh kekuatan politik tak lagi memercayainya, meski tentara mendukungnya. Lewat serangkaian “aksi” politik, kedudukannya sebagai KSAP hilang, dan dia diangkat sebagai penasihat militer, sebelum pensiun tahun 1959, di usia 39 tahun.
“Tak pernah ada militer yang pensiun di usia itu….”
Dari Tentara ke Gereja
Tahi Bonar Simatupang lahir 29 Januari 1920, di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Ia bukan orang Dairi, berbapak Batak pegawai negeri Belanda, yang hidup berpindah-pindah. Ibunya hanya wanita biasa, yang menjadi pedagang saat bapaknya meninggal dunia, 1946.
Ia anak kedua dari 7 bersaudara. 1937, bersama abang dan satu adiknya, mereka berangkat ke Jakarta, bersekolah. Tapi, berbeda dari saudaranya yang memilih kuliah, Simatupang memilih karier di militer. Maka, begitu ada pengumumam penerimaan tentara sukarela di Bandung, ia masuk, satu kelas dengan Nasutioan, Kawilarang dan Kartakusuma. Bersama Nasution dan Kawilarang, ia pun tercatat sebagai lulusan terbaik Koro, sehingga berhak masuk Akademi Militer Belanda di Bandung.
“Saya ingin hancurkan mitos Belanda yang mengatakan Indonesia tak akan mampu membentuk angkatan perang mandiri.”
1942, Jepang masuk. Sekolah diberhentikan, dan semua calon perwira itu diperbantukan dengan pangkat pembantu letnan. Nasution ke Jawa Timur, Simatupang ke kesatuan di Ciganjur, wilayah Bandung.
Saat Belanda menyatakan kalah, dan KNIL dibubarkan, Simatupang bahkan menjadi pedagang buku. Ia berdagang dari Jakarta, Bogor, bandung, Tegal, Pekalongan, Semarang hingga Surabaya, dan satu hal membuka matanya, Jepang pasti kalah. Ia lalu segera bertolak ke Jakarta, dan bergabung dengan Sutan Sjarir.
“Pertemuan dan diskusi dengan Sjarir membuka mata saya mengenai arah perjuangan Indonesia,” katanya.
Bergaul dengan kelompok intelektual Sjarir, Simatupang belajar banyak tentang kemiliteran. Dia juga yang mendesain segala bentuk perundingan dengan Belanda, sambil mempertimbangkan strategi perang jika perundingan gagal. Otaknya diakui Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat Urip Soemahardjo, dan ia menjadi tangan kanan. Panglima Soedirman pun acap meminta nasihatnya. Saat Soedirman meninggal, ia kembali ke Jakarta, dan diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang, dalam usia 29 tahun, 1949.
Simatupang pun kemudian terlibat dalam setiap keputusan politik. Ia juga menjadi wakil militer dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), dan mendesak pengakuan TNI sebagai kesatuan internal dalam wilayah Republik Indonesia Serikat. Dengan kata lain, Simatupang tak ingin ada campur tangan pada kedaulatan organisasi TNI.
Kariernya melesat. Ia dianggap sebagai pemikir militer paling kuat, di samping Nasution. Bung Hatta bahkan acap memakai pikirannya, untuk mewujudkan militer yang profesional. Sayang, ketika Bung Hatta jatuh, ia tak punya tangan kuat di sebalik kekuasaan. Dan konflik dengan Bung Karno mengakhiri karier cemerlang militernya.
Setelah “tamat” di militer, Simatupang masuk gereja. Ia melihat, pengabdian dalam militer dan gereja ada kemiripan, dapat lebih dekat dengan permasalahan sebenarnya masyarakat. Keaktifannya itu juga dalam rangka menciptakan kesalingpengertian antarumat beragama.
“Awal tahun 1970-an, saya bahkan menjadi pioner dialog antar-agama di Pematang Siantar. Wakil Islam saat itu adalah Harun Nasution, yang teman saya satu sekolah saat di Sidikalang,” kenangnya.
Ia merasa dapat lebih berbakti bagi masyarakat justru sesudah berada dalam gereja. Ia menjabat Ketua Dewan Gereja se-Indonesia, Kemudian meningkat untuk kawasan Asia, lalu Ketua Dewan Gereja Dunia, prestasi yang tak pernah diulang putra Indonesia lain.
Meski aktif di gereja, bukan berarti perhatiannya pada militer berkurang. Sebagai salah satu pengonsep Dwifungsi AbRI –meskipun ia tak menyetujui istilah itu diterapkan– ia amat memperhatikan perkembangan militer. Ia yakin, demokrasi juga dapat dipercepat jika militer ikut serta. Karena itu ia menolak keras anggapan, demokrasi akan tegak jika fungsi militer diminimalkan.
Sebagai militer yang jujur, Simatupang percaya, besarnya pesan militer dalam kehidupan sipil justru akan mempercepat perubahan ke arah demokratisasi. Ia yakin, fungsi militer pada akhirnya hanya semacam pengawas dari kekuatan sipil agar tak melakukan penyimpangan di dalam berdemokrasi.
Sayang, sampai ia meninggal, cita-cita dan pengharapannya pada militer tak pernah terwujud. Ia pergi, di saat militer justru unjuk gigi, menghancurkan kekuatan sipil, menjadi kaki tangan kekuasaan, di bawah kendali Soeharto.
Peletak Imaji Keindonesiaan
November 24, 2008
SATU saat yang tak pernah dilupakan Muhammad Yamin adalah ketika dia ditangkap dan diinapkan di penjara, dua tahun, tanpa peradilan, oleh bangsa yang kemerdekaannya turut dia rancang. Oleh Syahrir, Yamin dan Tan Malaka dituduh mendalangi peristiwa perebutan kekuasaan –Peristiwa 3 Juli 1946– hanya semata karena beda diplomasi dengan Belanda.
Tapi Soekarno memandang lain, dan melalui grasi, membebaskan Yamin, 1948.
Apakah Yamin kecewa? Tidak. Bagi Yamin, dalam perjuangan ada masanya, kecurigaan dan kesalahpahaman harus dibayar mahal. Dan dia siap, bahkan saat Soekarno memintanya ikut delegasi KMB, Yamin bersetuju.
Kariernya kemudian bergerak, dia menteri dalam beberapa kabinet, anggota DPR, staf Panglima Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, dan Ketua Dewan Pengawas Kantor Berita Antara (1961-1962).
Tapi karier terbesar Yamin sesungguhnya sebagai seorang sejarawan dan sastrawan.
Imaji Puitis Keindonesiaan
Yamin lahir 1903 di Bogor, dari keluarga mantri kopi, posisi yang terhormat di masa itu. Terakhir dia bersekolah di Recht Hogeschool Jakarta, meraih gelar sarjana hukum (1929). Setahun sebelumnya, dia menikahi Raden Ajeng Sundari Mertoatmodjo, dan memiliki seorang anak lelaki.
Sedari kecil Yamin hidup di tengah generasi setipe Muhammad Hatta. Tak heran, visi nasionalismenya amat kental. Dia pernah mendirikan Jong Sumatranen Bond, dan menjadi ketua. Pada 1931, ia masuk Partai Indonesia, dan menolak bekerja sama dengan Belanda.
Setelah Partai Indonesia bubar, ia membentuk Partai Gerakan Rakyat Indonesia bersama Wilopo, Amir Syarifuddin, Sumanang, dan Adam Malik, 1936. Ia kemudian masuk Volksraad, dan amat keras menyuarakan kemerdekaan Indonesia.
Satu hal yang paling hebat dari Yamin adalah visi dan pengetahuan kesejarahannya. Ia, dalam pidat0 Kongres Jong Sumatranen Bond misalnya, telah meramalkan masa depan Bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia. Ramalan dan ide yang kemudian disetujui dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Ia juga perumus dasar negara, sebagai salah satu anggota teraktif BPUPKI. Dan gagasan dialah tentang dasar negara yang kemudian menginsiprasikan Soekarno mengonsepkan Pancasila. Bahkan, saat konsep Piagam Jakarta dituliskan, Yaminlah yang paling aktif menyusun redaksional dokumen yang amat berharga itu.
Yang tak dapat dilupakan, Yamin juga, bersama Hatta, yang menambah beberapa pasal penting dalam rancangan UUD 1945, terutama pasal-pasal hak asasi manusia.
Kejeniusan Yamin memang diakui banyak pihak. Sejarawan Taufik Abdullah bahkan menempatkannya sebagai sejarawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Pujian yang bukan tanpa bukti. Sepanjang hidupnya, Yamin telah melahirkan buku sejarah yang amat otoritatif. Gadjah Mada (1945), Sedjarah Peperangan Dipanagara (1945), Tan Malaka (1945) dan Kebudayaan Asia-Afrika (1955) adalah beberapa karyanya yang kian menegaskan pengetahuan kesejarahannya dan visi nasionalismenya.
Merasa tak lengkap menggambarkan visi kesejarahannya dalam buku sejarah, Yamin menulis sajak dan drama, sejak 1920. Tanah Air (1920) dan Indonesia Tumpah Darahku (1928) adalah dua kumpulan sajaknya yang paling terkenal. Ia juga menyusun drama Ken Arok dan Ken Dedes (1938) dan menerjemahkan karya-karya Rabindranath Tagore dan William Shakespeare.
Lewat beberapa naskah-naskah awalnya, sangat tampak Yamin sangat mengimajinasikan Indonesia mampu kembali ke masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Dia bahkan tanpa ragu menyebut Indonesia adalah Imperium Nusantara ketiga, setelah dua kerajaan itu, yang dikecam para sejarawan sebagai pengembang mitos masa lalu. Tapi Yamin tak menanggapi. Karena baginya, imajinasi puitis keindonesiaan yang di masa muda hanya ia bayangkan, telah ikut juga ia wujudkan menjadi kenyataan, sebuah bangsa yang besar, meski selalu juga menyimpan masalah yang besar.
Nasib Getir Burung Kelana
November 10, 2008
Sutan Sjahrir adalah nama yang dicuplik ibunya dari kegemerlapan kisah Seribu Satu Malam di Istana Baghdat. Tapi kehidupan Sjahrir justru getir dan kelam, sejelaga belanga.
Dialah orang yang paling jenius dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hanya bermain di belakang gemebyar Soekarno dan memimpin pergerakan di Bandung, Amsterdam, dan Leiden, jiwanya menjadi matang. Dialah pengelana yang hidup untuk kampung halaman: pribadinya matang dalam tempaan cita-cita kemerdekaan.
Menghabiskan delapan tahun dalam penjara kolonial dan pembuangan, tiga kali menjadi Perdana Menteri di rezim Soekarno, tapi saat mati, Sjahrir justru berstatus tahanan politik, dari sebuah bangsa yang dengan darah dan airmata ia perjuangkan kemerdekaannya.
Dialah Don Quixote, sekaligus Kafka.
Sendiri, pedih, getir.
Tapi amat mencintai sesama atas nama kemanusiaan.
Tak heran, pada hari penguburannya, 18 April 1966, jasadnya yang baru datang dari Zurich, disambut 250 ribu massa, yang mengelu-elukannya dalam tangis, mengantar bunga dukacita ke Kalibata. Helikopter berputar, meraung, menabur wewangian kembang, tembakan salvo pun menggelegar, mengiringi jasad ringkih, pucat, tapi tersenyum, turun ke liang lahat.
Pemerintah menginstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang tiga hari; tanda duka, dan jasad yang kering itu pun dibaptis sebagai pahlawan nasional.
Tapi apakah arti upacara itu?
Adakah kemeriahan penghormatan dan anugerah itu dapat mengobati luka Sjahrir, yang lebih membutuhkannya di hari-hari panjang yang dingin, pengap, meringkuk sakit, sendiri, sepi, di sebuah penjara, di Jakarta.
Hidup Sjahrir mungkin sebuah biografi yang tak indah. Tapi, siapa yang bisa melepaskan namanya dari triumvirat Bung, pendiri negara ini? Dalam tahap ini, jelas, Sjahrir berarti, sangat berarti.
Dia berjuang untuk memerdekakan negeri ini dengan konsep yang ganjil tentang nasionalisme. Nasionalisme bagi si Bung berdarah Minang ini bukanlah dewa. “Nasionalisme hanya kendaraan yang kita pakai saat ini untuk memerdekakan diri,” ucapnya.
“Sjahrir adalah burung kelana yang mendahului terbang melampaui batas-batas nasionalisme. Dia salah seorang tokoh terbesar dalam kebangkitan Asia,” puji Indonesianis, Herbert Feith.
“Perjalanan hidup Sjahrir,” tulis Rudolf Mrazeck dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, adalah gerak universalisme dari satu tradisi sempit. Dia tak pernah membawa bau tradisional, primordial, atau parokial. Ia secara jujur mengaku, tak punya hubungan batin dengan dunia Minang.”
Dalam posisi itu, Sjahrir amat berbeda dari Soekarno, Hatta, bahkan Tan Malaka. Sjahrir adalah anak panah, melesat dari busurnya, tak pernah kembali.
Intelektual Marxis Sejati
Seperti pemimpin pergerakan lainnya, Sjahrir adalah buah dari politik etis van Deventer. Ia lahir di Padangpanjang, Sumatra Barat, 5 Maret 1909, dan dewasa di Medan. Di kota itulah jiwa muda Sjahrair sudah kenyang melihat penderitaan kaoem koeli, bukti eksploitasi kolonialisme.
Dia mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan pustaka dunia, karya-karya Karl May, Don Quixote, dan ratusan novel-novel Belanda. Malamnya dia ngamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk kulit putih, kecuali musisi dan pelayan.
1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu.
Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volkuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Sebelum Soekarno membentuk Perserikatan Nasional Indonesia, 4 Juli 1927, Sjahrir telah membentuk Jong Indonesie, yang kelak menjadi Pemoeda Indonesia. Ini oerganisasi baru yang jauh dari warna kesukuan, dan ia menjadi pemimpin redaksi organisasi itu.
Kuliah hukum di Universitas Amsterdam, Sjahrir berkenalan dengan Salomon Tas, ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Sjahrir, meski sebentar.
Dari mereka Sjahrir mengenal Marxisme, dan melalui Hatta, dia masuk Perhimpunan Indonesia. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.
“Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan,” katanya.
Tulisan-tulisan Sjahrir berikutnya, terutama dalam manifestonya, Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Sjahrir justru menulis, “Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.”
Dan dia mengecam Soekarno. “Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita.” Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjoeangan Kita adalah karya terbesar Sjahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrif itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, “satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memengaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan.”
Pujian yang tak berlebihan. Karena melalui Partai Sosialis Indonesia yang melahirkan Soejatmoko, Sutan Takdir Alisjahbana, jejak-jejak Sjahrir sampai kini masih terasa, kuat, masih menggelora.
Diplomat Minang Berlidah Pedang
October 14, 2008
Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum.
“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.
Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”
“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.
“Kucing!”
“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.
Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?”
Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”
Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda.
Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim, pentolan Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan Muso. Tapi, Agus Salim selalu menanggapi semua perdebatan dengan Muso, bahkan sampai menyentuh hal yang amat pribadi. Bagi Agus Salim, setiap perdebatan harus ia hadapi, dan mesti ia menangi.
“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat ahli berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,” jelas Mohamad Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten Bond.
Menolak Bea Siswa
Agus Salim lahir di kota Gedang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Ia anak keempat dari Haji Moehammad Sali, jaksa di pengadilan negeri setempat. Karena kedudukan ayahnya itu, Agus kecil yang bernama asli Mashudul Haq, dapat bersekolah Belanda. Hebatnya, lelaki yang memang sedari muda suka memelihara janggut ini, amat pintar. Waktu lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 19 tahun, ia meraih predikat sebagai lulusan terbaik untuk wilayah tiga kota: Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus kemudian mengajukan permintaan beasiswa pada pemerintaan Belanda. Tapi, permintaan itu ditampik. Agus Salim patah arang.
Sementara itu, di Jawa, tepatnya di Jepara, Kartini yang mendapat beasiswa tapi tak diizinkan orang tuanya, mendesak pemerintahan Belanda untuk menghibahkan beasiswa itu pada Agus Salim. Pemerintah Belanda menyanggupi. Tapi apa kata Agus Salim?
“Jika beasiswa itu diberikan kepadaku karena desakan Kartini, dan bukan karena penghargaan atas diriku sendiri, lebih baik tidak akan pernah kuterima,” kecamnya.
Sebagai sikap pembangkangan, Agus Salim bahkan hengkang ke Jeddah, dan belajar pada ulama di sana, sambil bekerja di konsulat Belanda.
Karier politik Agus Salim bermula saat dia pulang ke Indonesia, dan bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis di Sarekat Islam. Waktu kedua tokoh SI itu mundur dari Volksraad (dewan rakyat), Agus menggantikannya. Tapi, karena Belanda tak juga mengubah kebijakanannya pada Indonesia, Agus pun akhirnya mundur.
SI kemudian pecah, antara golongan Semaun dan Muso yang condong ke garis kiri, dan Agus Salim-Tjokro yang tetap di jalur agama. SI Semaun-Muso berkembang menjadi partai komunis, sedangkan Agus Salium kemudian aktif di Jong Islamieten Bond.
Di organisasi baru ini, Agus pernah dituduh memecah belah pemuda berdasarkan sentimen keagamaan. Tapi Agus menolak, dan mengajak berdebat, dan dia menang.
Di lembaga ini Agus kemudian melakukan gebrakan. Dalam kongres Jong Islamieten Bond di Yogyakarta 1925, peserta lelaki dan wanita duduk terpisah dan berbatas tabir, sesuai syariah Islam. Tapi, dua tahun kemudian, dalam kongres di Solo, Agus atas nama pengurus membuka tabir itu, setelah menjelaskan penafsirannya. Semangat pembaruan Islam ini terus berkembang.
“Ajaran dan semangat Islam, memelopori emansipasi perempuan. Itu pasti,” ucapnya, berapi. Kisah ini sering diucapulangkan Seokarno dalam tiap pidatonya, untuk menerangkan perlunya memandang Islam dan berbagai agama dengan dada terbuka.
Tak Hirau Harta Dunia
Setelah Indonesia merdeka, bakat debat dan ketajaman lidah Agus Salim dimanfaatkan untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus menjadi diplomat, yang bahkan atas lobinya, Mesir mau mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali. Dalam perjanjian dengan Belanda dan negara lain pun, Agus pasti disertakan. Tapi, sebagai pejabat negara, hidup keseharian Agus tak ubahnya rakyat jelata.
Hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain. Kadang, rumah itu hanya satu kamar, di gang becek, dan dia huni bersama 8 anaknya, serta ribuan buku koleksinya.
Tapi, menjadi miskin tak membuat keluarga itu murung. Penampikan Agus pada harta tak membuat anaknya kehilangan kegairahan dan keceriaan hidup. Mohamad Roem yang acap bertandang, menjadi saksi: “Kegembiraan berada di tengah keluarga Agus Salim, membuat kita acap lupa, sungguh betapa melaratnya keluarga ini,” katanya.
Agus Salim memang tak dendam pada kemiskinannya. Yang ia dendami adalah perlakuan Belanda yang menolak beasiswa dia. Karena itu, sedari lahir, tak pernah anaknya ia sekolahkan formal, kecuali yang bungsu. Agus mendidik sendiri anaknya dengan cinta dan pengertian. Bermain bagi Agus adalah belajar, belajar juga adalah permainan.
Hebatnya, sistem pendidikan informal ini cukup berhasil. Anak tertuanya, Jusuf Taufik, telah mampu membaca Mahabrata berbahasa Belanda di usia 13 tahun, dan yang lainnya, di usia belasan telah mampu menghapal syair Belanda. Perlu diketahui, tata bahasa Belanda amat sulit, sehingga butuh ketekunan yang luar biasa untuk bisa menguasainya.
Bagi Agus Salim, keberhasilan dirinya dia ukur dengan kemampuannya mengantarkan jiwa merdeka dan mandiri bagi anak-anaknya, tak menggantungkan hidup pada orang atau bangsa lain.
Jiwa yang merdeka ini, lidah yang amat tajam ini, dan otak yang luar biasa cemerlang itu, akhirnya rebah, 4 November 1954, di usia 70 tahun, sambil tersenyum. Dia tak pernah berhutang pada dunia.
Wahidin, Pionir BU
September 12, 2008
Di penghujung tahun 1907, seorang lelaki tua, berteman sebatang tongkat dan blangkon yang memudar warnanya, memberi ceramah di depan mahasiswa STOVIA. Pramudya Ananta Toer dalam Jejak Langkah, melalui tokoh Minke, melukiskan lelaki tua ini dengan menakjubkan. Mata lelaki tua itu, bercahaya, seakan menyimpan bara semangat yang luar biasa. Dia berpidato tentang gagasan baru, tentang masa depan Indonesia. Gagasan yang di era itu seperti bersit sinar di malam gulita.
Di antara mahasiswa Stovia, hadir Soetomo. Dia tergugah dengan pidato yang tenang tapi meledak-ledak itu. Dalam buku Kenang-kenangan, Herrineringen Soetomo menulis dengan penuh puji. “Berbicara dengan dia merupakan pengalaman yang sangat mengharukan. Dengan mudah orang tahu tentang luhurnya semangat pengabdian dokter ini”. Dan kelak, Soetomolah yang berusaha mewujudkan pidato lelaki tua itu.
Pengide yang tersingkir
Tapi, siapakah lelaki berblangkon yang sanggup memukai mahasiswa STOVIA itu? Dia tak lain adalah Dr Wahidin Sudirohusodo. Kedatangan dokter jawa ini tak lain karena dia sudah merasa putus asa menyampaikan ide-ide besarnya pada rakyat jelata.
Lima tahun sebelum pidato yang menggemparkan itu, Wahidin sudah mulai menyebarkan idenya melalui majalah Retnodoemilah, berbahasa Melayu dan Jawa. Di majalah yang terbit tiga kali seminggu itu, dia meliput tentang organisasi-organisasi pribumi tradisional. Dalam terbitan 4 Januari 1901 misalnya, dia menulis tentang Mardiwara (Berupaya), organisasi diskusi di antara pejabat kerajaan. Tiga edisi kemudian, dia meliput kelahiran Suria Sumirat (Matahari Bersinar), sebuah organisasi pengrajin yang bertujuan meningkatkan mutu produk dan daya sebar barang sampai ke Eropa. Di edisi ke-15, Wahidin bahkan langsung memuat pidatonya di depan organisasi tradisional itu, tentang perlunya kebangkitan Jawa. Dia menggelar bukti, pendidikan modern dapat disatukan dengan budaya Jawa, untuk memperbaiki kualitas hidup. Dalam pidato yang berisi itu, Wahidin memaparkan kebangkitan bangsa lain di Asia, seperti Cina dan Jepang. Juga mencontohkan kaum pendatang di Jawa yang justru lebih maju dan giat berorganisasi.
Tapi, semua ”provokasi” Wahidin tak menemukan gema. Para pembaca dan pendengarnya hanya mengangguk, tanpa berbuat apa-apa. Dan Wahidin takut, cita-citanya lapuk di makan usia.
Di usia 53, di pertengahan tahun 1906, dia mengambil keputusan penting, meninggalkan Retnodoemilah dan berkelana. Tujuannya satu, memprovokasi para pemuka Jawa sekelas bupati (regent) untuk menggalang dana yang kelak disalurkan sebagai beasiswa (studiefond) untuk rakyat tak mampu, yang berminat sekolah ke Nederland.
Tapi, banyak bupati yang tak mendukung ide itu. Mereka takut, jika peradaban baru muncul, posisi kepriyayian mereka akan tergeser, dan keistimewaan keluarga akan lenyap. Namun, Bupati Serang Raden Adipati Aria Achmad Djajadiningrat mendukung tulus ide ini, dan memberikan berbagai bantuan bagi Wahidin untuk meluaskan ide-idenya, hingga sampai diundang ke Stovia.
Para mahasiswa itu, dimotori Soetomo, mewujudkan ide Wahidin. Budi Utomo pun lahir. Sayang, organisasi modern pertama ini justru menciderai ide mulia itu, dengan menekankan unsur kesukuan, kejawaan. Dengan alasan demi perkembangan organisasi, usul Tirto Adisurjo tentang paham kebangsaan dan usul Wahidin tentang beasiswa, ditolak. Sampai bubarnya, Budi Utomo tetap berorientasi kesukuan, dan tak mengadopsi ide-ide Wahidin. Dia pengide, dan dia disingkirkan.
Jiwa yang Gelisah
Wahidin lahir di desa Mlati, Yogyakarta, pada 17 Januari 1852, sebagai priyayi desa bergelar Mas Ngabehi. Sejak kecil, dia dikenal lincah dan pintar. Tak heran jika kemudian Wahidin kecil tercatat sebagai bumiputera pertama yang diterima di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa.
Tahun 1869 dia tamat, dan langsung melanjutkan ke Inlandsch Geneeskundige, sekolah dokter bumiputera. Di sini Wahidin pun terkenal giat dan pintar. kejutan kembali dia raih, menjadi asisten dosen, dan setelah tamat, 1872, dia mengajar di sekolah itu.
Selama mengajar inilah Wahidin merasa betapa jauhnya jarak antara pribumi dan warga Belanda. Dia kemudian keluar, dan membaktikan diri menjadi dokter kesehatan di Yogyakarta. Namun, selama menjadi dokter pun, dari keliling daerah saat mengunjungi pasien, dia merasa gelisah melihat bangsanya. Dia menyusun pikiran besar, dan di tahun 1899, dia keluar. Di usia 49 tahun, Wahidin percaya, hanya perslah yang akan mampu menyebarkan dan membantu mewujudkan idenya. Sayang, kenyataan berbicara lain.
Tak banyak catatan tentang kehidupan pribadi dokter santun ini. Dia menikahi wanita Betawi, Anna, dan berputra dua. Seornag putranya adalah ahli lukis terkenal di masa itu, Abdullah Subroto. Dan cucunya adalah maestro seni lukis realis Indonesia, Basuki Abdullah.
Sembilan tahun setelah Budi Utomo lahir, dokter yang amat mencintai bangsanya ini meninggal dunia, 26 Mei 1917, dan dimakamkan di desa Mlati, Yogyakarta.
STA, Perangkum Semua Kebudayaan
September 1, 2008
INDONESIA hari ini, juga Indonesia akan datang, tidak dibangun dalam satu hari, juga tidak oleh satu orang. Meski, untuk peletak dasar kebudayaan, ada satu orang yang namanya tak mungkin dihapuskan. Dialah Sutan Takdir Alisjahbana, yang namanya biasa disingkat STA.
Takdirlah yang dengan serius memikirkan kebudayaan Indonesia. Tak hanya melalui Polemik Kebudayaan –yang sampai kini masih acap dibicarakan- dan Majalah Pujangga Baru yang semua dia garap dengan sangat serius, tapi juga upayanya menjadikan bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa modern.
Bagi Takdir, bahasa bukanlah semata alat untuk berpikir. Bahasa adalah pikiran itu sendiri.
Dan modernisasi adalah kunci dari pemikiran Takdir, yang sering diidentikkan orang dengan pembaratan. Padahal, Takdir memaksudkan itu sebagai adopsi rasionalitas. Dan itulah yang terus ia pertahankan mulai Polemik Kebudayaan, sampai di akhir masa hidupnya.
“Perdebatan ketika itu adalah mengenai perbedaan antara yang saya namakan kebudayaan progresif –penguasaan ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi-dan kebudayaan ekspresif –kebudayaan tradisional yang dikuasai nilai agama dan seni. Yang pertama berdasarkan kerasionalan berpikir, yang kedua berdasarkan intuisi, dan imajinasi,” terangnya di tahun 1986.
“Perbedaan kedua hal itu amat besar. Seperti perbedaan antara kebudayaan Indonesia dan pra-Indonesia. Zaman Islam dan zaman Jahiliyah,” tambahnya di tulisan yang lain.
Sebelumnya di tahun 1985, saat dia berumur 77 tahun, dengan marah Takdir menyerang pihak yang masih merindukan kebudayaan lama atau daerah, sewaktu seminar di Bali. “Kebudayaan lama adalah kebudayaan pramodern yang sama sekali ta pernah menghasilkan teknologi.” Bagi Takdir, kebudayaan adalah totalitas agama, ilmu dan teknologi. “Kebudayaan pramodern, irrelevant dengan totalitas itu,” kecamnya.
Guru yang Ganas
“Sewaktu lahir, Takdir tak menangis, tapi langsung berdebat.” Begitulah kelakar teman-teman masa mudanya, menggambarkan betapa acapnya tokoh satu ini mendebatkan banyak soal.
Lahir di Natal Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 11 Februari 1908, Takdir mengaku berdarah campuran.
“Ayah saya berdarah Jawa, namanya Raden Alisjahbana, gelar Sutan Arbi. Gelar Raden itu diakui Kesultanan Yogyakarta, dan ayahlah yang pernah diminta memata-matai kegiatan Sentot Alibasjah di Bengkulu. Dari jurusan darah ini, saya memang orang campuran,” akunya sambil bergelak pada Tempo.
Ayah Takdir seorang guru, dan Takdir mewarisi bakat itu. Setelah menamatkan sekolah di HIS Bengkulu (1921) dan melanjutkan ke Kweekschool, Bukittinggi, Lahat, Muaraenim (1925) dia mulai mengajar. Tapi bakat yang diturunkan ayahnya ternyata tak cuma menjadi guru, juga suka bermain bola, berdebat, dan ini yang paling parah, pemberang. Tak heran, dia acap mengamuk mengamati kebodohan murid-muridnya.
“Sering betul saya menampar murid-murid. Suatu hari, saya malah menampar seluruh kelas,” kenangnya.
Peristiwa itu berlanjut. Seorang murid melaporkan peristiwa itu, dan nama Takdir tercantum dalam sebuah liputan di koran Pertja Selatan, dengan berita panas, “Guru yang Ganas”.
Mungkin karena itu Takdir terbang ke Jakarta, melamar menjadi redaktur di majalah Panji Poestaka, tapi ia malah diterima di bagian penerbitan buku. Di Jakarta ini dia masih melanjutkan sekolahnya di Hogere Hoofdacte Curcus (1933), dan melahirkan roman pertamanya, Dian yang tak Kunjung Padam, dan dilanjutkan dengan Layar Terkembang.
Kariernya melesat karena redaktur Panji Poestaka Adinegoro pindah ke Medan. Takdir menggantikannya, dan melesatkan projek “Gerakan Sastra Baru” pada tahun 1933. Gerakan ini membuat dia akrab dengan sastrawan kondang masa itu, Armijn Pane dan Amir Hamzah.
Takdir kemudian berkenalan dengan A Dahleer, seorang Belanda pemilik percetakan Kolf. Lewat percetakan itulah Poejangga Baru pertama kali terbit, yang kemudian Takdir terbitkan sendiri.
“Meskipun pembaca Majalah itu tidak banyak, tapi pengaruhnya besar sekali. Banyak ahli yang menyumbangkan tulisan, di antaranya Prof Husein Djajadiningrat, Maria Ulfah Santoso, Amir Sjarifuddin, Mr Sumanang, dan Poerwadarminta. Ada sekitar 20 orang intelektual Indonesia yang menjadi inti gerakan itu,” kenangnya.
Tenggelam dalam Bahasa
Ketika Jepang masuk Indonesia, Takdir masih sempat menamatkan sekolahnya di Rechtshogeschool dan Leeterkundige Fakulteit Jakarta (1942). Dan ketika Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia, Takdir pegang peranan penting.
“Saya diangkat jadi Sekretaris Ahli. Sekretaris sesungguhnya adalah Mr Soewandi,” jelasnya. Namun, sejarah mencatat, Takdirlah yang kemudian menjadi napas Lembaga itu, terutama saat Lembaga itu berubah menjadi Kantor Bahasa, dia mengetuainya. Dan Takdir memulai kerja, menyeragamkan istilah-istilah yang dipakai di sekolah-sekolah.
“Kami berhasil menghimpun lebih dari 400 ribu istilah dalam bahasa Indonesia,” ucapnya bangga.
Di masa Jepang ini, dia pun melahirkan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun.
Di era kemerdekaan, Takdir kemudian mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) dan Universitas Nasional, dan menjadi rektornya. Dia menjadi penganjur yang tak kenal lelah untuk usaha modernisasi, menganjurkan penerjemaan karya-karya asing secara sistematis dan berkualitas. Ia pun mendirikan lembaga penerjemahan di Universitas Nasional.
“Semua kebudayaan dunia adalah kebudayaan saya,” jelasnya, saat ditanya kenapa dia begitu getol menerjemahkan berbagai karya sastra dunia. Namun, ia mengaku kecewa dengan kualitas penguasaan bahasa Indonesia.
“Saya kecewa. Ini menunjukkan bahwa bahasa yang pernah menggetarkan dunia linguistik ini, dengan kesanggupan memersatukan 13 ribu pulau, masih saja jadi bahasa yang terbelakang, belum modern, belum menjadi pintu ilmu dan teknologi,” keluh suami tiga istri, dan bapak sembilan anak ini, selain lima novel dan beberapa karya ilmiah.
Obsesi Takdir adalah menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ia memberian gambaran bahwa Malaysia, Brunai, Singapura dan sebagian Philipina adalah pemakai bahasa Melayu. Karena itu, dengan kerja sama dan pengertian yang baik, Takdir percaya, keempat negara itu akan mampu mewujudkan bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di Asia Tenggara.
Sayang, obsesi si perangkum semua kebudayaan itu tak pernah terwujud, sampai ia menutup mata 15 Juli 1995, di usia 87 tahun. Bahkan, sampai kini, enam tahun setelah kepergiannya itu, tak ada pewaris obsesinya yang masih mau mengumandangkan cita-cita itu.




Recent Comments