Ayu Azhari dan Arloji Ingatan

February 4, 2010

Kita hidup dengan arloji, dan karena itu kita acap tak mampu menyimpan memori.

Arloji, adalah gerak ke depan, tik-tok waktu yang tak pernah kembali. Dalam “hidup arloji”, yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi diogahi. Masa lalu masih ada, namun tak penting. Celakanya, masa lalu yang tak penting itu hidup dalam “ingatan kolektif yang abai”.

Hari-hari ini, ideologi arloji itu, saya temukan lagi dalam sikap Krisdayanti.

Diva Indonesia itu tengah gundah karena, “Aurel tak mau menatap saya ketika berbicara. Dia sibuk memainkan teleponnya.” Sebabnya, Aurel belum memberi izin ibunya untuk menilah lagi. Tabloid wanita ramai memberitakan hal itu, juga tentu, infotainmen, dan situs-situs berita. Dan, seperti bisa diduga, yang akan menikahi KD adalah Rahul Lemos, lelaki yang karenanyalah Anang menjatuhkan talak.

KD, dengan santai, bercerita tentang hasratnya untuk cepat menikah, bukan karena dia lupa pada ucapannya bahwa, “Tak ada orang ketiga dalam perceraian kami,” melainkan dia percaya, penggemar dan pemirsa telah alpa.

KD tak sepenuhnya benar. Khalayak tidak alpa, apalagi lupa, cuma menganggap perselingkuhannya bukanlah sesuatu yang pantas dikenang, dimemorikan. Ironi ini, dalam bahasa Dr Risa Permanadeli, adalah ciri masyarakat Indonesia, yang, “Cenderung mengubur memori kolektifnya.”

Dan kita harus mengakui lemahnya memori kolektif itu. Tora Sudiro kemudian menikah dengan Mieke Amalia, yang dia bantah menjadi sebab kehancuran rumah tangganya. Juga Dona Agnesia, yang secara mendadak berpisah dari Okan, lalu menikah dengan Darius. Dalam sengketa asmara itu, semua aktris membantah kehadiran orang ketiga, tapi waktu kemudian membuktikannya.

Apa yang dibantah, bahkan dengan sumpah, menjadi tak penting lagi. Dalam tik-tok arloji, kelampauan adalah keusangan. Meski itu menyangkut janji, atau hati. Yang menyergap, yang harus dikalahkan, adalah masa depan.

Ayu Azhari misalnya, bertarung untuk masa depan itu. Dia tahu, biografi hidupnya akan dijabarkan. Menikah beberapa kali, acap tampil seksi, sampai berakting bugil dengan Frank Zagarino dalam Without Mercy, dan terakhir, tak memakai bra ketika membaca puisi di hadapan menteri. Kalau pun itu aib, bagi Ayu, telah menjadi masa lalu, dan untuk khalayak, cuma menjadi gosip, dibicarakan tanpa melahirkan tindakan. Ayu berharap, ingatan arloji itu akan dapat mengereknya ke panggung politik karena dia punya kuasa untuk memerintah lupa, “Saya siapkan 10 miliar untuk kampanye.”

Pada akhirnya, di masyarakat kita, kuburan memori kolektif itu adalah uang. Dan ini tak salah. Agustinus, dalam Confession menulis bahwa ingatan, juga kesadaran seseorang, terentang dengan ekspektasinya tentang masa depan. Ingatan, dengan demikian, selalu berelasi dengan kepentingan dan harapan di masa depan. Lupa adalah tindak yang dipilih jika bisa melahirkan sebuah harapan. Dan berkaitan dengan uang, harapan itu tentu berwatak personal.

Dan karena itulah, kita sulit berpikir sebagai bangsa.

Ingatan dibungkam secara pribadi, orang perorang, yang melahirkan kelupaan massal. Uang dan iklan –penghipnotis massa– ditembakkan untuk melahirkan impunitas, pengampunan, pemaafan, permakluman. Dengan itulah, Ayu Azhari berharap bisa melenggang. Atau Ruhut, dengan ringan berteriak bangsat berkali-kali, meski tahu disorot televisi. Mereka percaya, waktu, ingatan arloji itu, akan dapat memperbaharui diri mereka.

Maka, Vena Melinda pun tertawa, ketika tak hapal lagu “Indonesia Raya”. Juga Inggrit Kansil, yang tak dapat menjelaskan apa hak angket, sampai Rachel Maryam yang lupa sila kedua Pancasila. Tak ada wajah gugup, keringat, atau panik, ketika John Pantau menggoda mereka. Padahal, di saat yang sama, ditunjukkan betapa rakyat jelata, yang mereka wakili, tanpa berpikir bisa menjawab pertanyaan itu.

Dan mereka, aktris yang sebelum kampanye digosipkan tak akan memiliki kemampuan di DPR, tetap terpilih juga. Kita, sebagai warga, tentu masih ingat tentang “cacat” mereka. Tapi ingatan itu berjalan ke belakang, tak berfungsi ke depan.

Sia-sia.

Barangkali, inilah yang dikatakan Spinoza sabagai ingatan yang tanpa sad passion, syahwat kesedihan. Mengingat bagi kita, tak melahirkan sakit, sebaliknya perasaan riang, gembira. Karena kita percaya, dalam tiap cacat masa lalu seseorang yang kita kenang, ada rejeki, uang, harapan, di depan. Kita mengingat bukan dengan afeksi, emosi, dan sentimen-sentimen personal untuk masa depan yang lebih baik, melainkan demi kepentingan personal semata.

Ingatan arloji, kataku. Mari menari! mari beria! mari berlupa! tulis Chairil dalam puisi “Cerita buat Dian Tamaela”. Karena dalam lupa, dalam ingatan yang tak ingin kita kuasakan, kita bisa bahagia, meski bukan untuk bangsa.

Titiek Puspa dan Kupu-kupu

January 20, 2010

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Titiek Puspa tahu itu.

Ketika kanker rahim mendera, wajah sedih tak tampak di rautnya. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu menciptakan 69 lagu. Sakit seperti energi. Sakit, bagi nenek yang awet muda itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan diksi yang indah, dalam jumpa pers di Wisma Puspa, Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010), dia mengatakan, “…dalam sakit ini pula saya merasa dibangunkan oleh Tuhan.”

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal. “Oo… akhirnya saya kena juga tho? Saya tahu bapak saya kena, saudara saya juga kena dan sudah dipanggil,” ucap Titiek.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan “menyalahkan” Tuhan.

“Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,” kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

“Ini cobaan Tuhan,” ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk “menemukan dan menumbuhkan” gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik inilah diksi Titiek Puspa terasa indah. Dia memakai kata “dibangunkan”, seakan sebelum sakit, ketika sehat, Titiek berada dalam tidur yang panjang. Bangun juga mengindikasikan diri yang bangkit, secara fisik atau batin. “Dibangunkan” juga mengindikasikan keakraban, keintiman hubungan Titiek dan Tuhan. Barangkali juga cinta.

“Dibangunkan” juga penerimaan bahwa Tuhan datang kepada kita bukan dengan wajah yang marah, bukan menegur, atau memberi cobaan.

Sakit diterima Titiek tanpa prasangka bahwa Tuhan tengah marah padanya. Lihat cara dia mengungkapkan ihkwal terkena kanker itu, “Oo.. akhirnya saya kena juga.” Begitu ringan, enteng. “Kena,” seakan sakit kanker itu seringan jerawat, mencret, atau batuk. “Kena”, katanya, seperti menisbankan bahwa sakit itu pasti datang dan tak tak terelakkan karena, “Bapak dan kakak saya juga kena.”

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Titiek berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Titiek, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. “Saya sudah siap dipanggil, kapan saja,” katanya.

Titiek berobat, dan dia tetap siap dipanggil. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Titiek menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Titiek, adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

“Saya merasa dibangunkan…” katanya. Dalam sakit, Titiek merasa dirinya adalah ulat yang tidur dalam kepompong, dan Tuhan membangunkannya sebagai kupu-kupu. Betapa indah dia memaknai kehidupan, dan juga kesepian-kesakitan. Betapa intim cara dia berbahasa dengan Tuhan.

Titiek, aku kagum padamu.

Dari Pemakaman Gus Dur

January 6, 2010

Di pemakaman Gus Dur, saya melihat wajah-wajah yang tak akrab di kamera. Ribuan, menyemut, seperti antrian menggotong gula. Wajah-wajah, yang meski asing, tapi memiliki aura yang sama, raut kehilangan. Paras-paras yang meski terlihat tegang menanti hadirnya jenazah kecintaan mereka, tapi tetap mendaraskan doa. Mereka terhimpun oleh semangat cinta yang sama, melihat, menyentuh, atau sekadar melontarkan takbir, sebelum Gus Dur, dikebumikan. Cinta itu membuat mereka terhimpun di sekitar pemakaman, di depan pesantren, di atas pohon, berjajaran duduk di genteng, bahkan menanti di selokan. Dan ketika jenazah Gus Dur tiba, seperti dalam satu tarikan napas, semua mengangkat takbir, bergerak mendekat.

Tapi, “Jenazah Gus Dur seperti dirampas tentara,” kata Pras, seorang pelayat. Dia berharap dapat dekat, minimal menyentuhkan tangannya ke keranda Gus Dur. Tapi protokoler militer, membuat Pras, juga ribuan pecinta lain, kehilangan hak untuk memberikan penghormatan terakhir.

“Gus Dur itu kiai saya, tetap kiai saya, bahkan ketika beliau menjadi presiden,” sesal Rasmanto, pelayat dari Madiun.

Ribuan wajah itu tetap bertahan, bahkan selewat tujuh hari setelah kematian Gus Dur. Seperti terjadwal, mereka bergiliran datang untuk sowan, membaca Yasin, berdoa, di depan pusara, dan pulang dengan segenggam tanah makam, atau sepucuk kembang.

Sampai kemudian muncul kritik, sikap itu dapat menjadikan peziarah terjerumus dalam laku syirik. Sebuah pandangan yang, secara amat menggelikan, mendudukkan keimanan orang lain, peziarah itu, dalam kadar yang rendah, dan mudah goyang. Lalu makam pun dibentengi dari “pejarah tanah dan kembang”, dengan pagar rafia, yang tanpa sadar, menghapus harapan banyak para pecinta.

Arofah, peziarah dari Surabaya, menangis tersedu-sedu, karena tak dapat menjamah makam Gus Dur. “Saya ingin mengambil sedikit tanah, atau bunga. Tapi tak bisa…,” isaknya.

Saya dapat merasakan kesedihan Arofah. Saya percaya, jika Gus Dur masih ada, dia akan membiarkan laku itu, agar setiap orang dapat terus memiliki harapan, terus hidup dalam keriangan-keriangan. Seperti pembiaran Gus Dur, ketika umat berharap dapat mencium tangannya. Karena bagi Gus Dur, efek penciuman tangan itu bukan buatnya, melainkan buat pecintanya, santrinya, yang berharap dapat berkah. Mencium tangan Gus Dur, menggenggam keranda, mensalatkan, menjumputi tanah makam, atau menyimpan kembang, dengan demikian hanya semacam upaya untuk berusaha mendapatkan cahaya di dalam kegelapan. Mengapa dilarang? Mengapa, “Gitu aja kok repot….”

“Saya selalu ingin dekat dengan Gus Dur. Karena tidak bisa waktu beliau hidup, minimal saya sudah bisa dekat di makamnya,” kata Abdul Hakim, peziarah asal Lamongan. Tiga kali dia berziarah, dan baru pada Rabu (6/1), Abdul dapat membaca Yasin persis di depan kuburan.

******

Di pemakaman Gus Dur, saya melihat wajah-wajah yang tak akrab di depan kamera. Ribuan. Mereka menanggalkan status, jabatan, membuang ikatan-ikatan busana kantoran, melibatkan sarung, duduk sebagai santri, membaurkan diri sebagai pecinta. Semua berharap mendapat kehormatan, menurunkan mayat ke lahat, menyentuh Gus Dur atau hanya keranda dan kafan. Wajah-wajah yang tidak saya kenal, yang saya yakin, juga tak bersentuhan dengan Gus Dur secara pribadi. Asing dalam persentuhan fisik, akrab dalam senggama batin.

Di pemakaman Gus Dur, saya juga melihat wajah-wajah yang juga akrab di depan kamera. Ratusan. Mereka tak menanggalkan status, apalagi jabatan, mengenakan busana kantoran, berjas, berdasi, sepatu mengilap, di udara yang terik berkeringat. Mereka santri. Mereka murid Gus Dur. Sebagian bertalian darah, keponakan. Mereka, dulu, selalu bersentuhan secara pribadi dengan Gus Dur. Akrab dalam kontak fisik, tapi kini, bahkan ketika sang Guru berpulang, mereka tetap menjaraki batin.

Ada Muhaimin Iskandar, Saifullah Yusuf, Alwi Shihab, Helmi Faisal Zaini, dan lainnya, yang berkat Gus Dur, jalan politik mereka tersibak lebar.

Mereka murid, “Saya anak ideologis Gus Dur,” kata Muhaimin, dan terlebih mereka santri, dari berbagai pesantren di Jawa Timur.

Mereka juga, dulu, adalah pecinta Gus Dur yang paling masyuk. “Bahkan kalau Gus Dur bilang langit berwarna hijau, saya akan bilang juga hijau,” tegas Muhaimin.

Merekalah saksi terdekat dan penerima berkah dari “kesaktian” Gus Dur.

Tapi di Pesantren Tebu Ireng itu, mereka “cuma” tamu, yang sebenarnya tak ditunggu.

Dan sebagai tamu, mereka terhalang –atau mungkin merasa nyaman– dengan protokoler jabatan.

Muhaimin, dan yang lain, seperti juga SBY, datang dan membuang waktu dengan menyalami pelayat di jalan. Mereka ditunggu jenazah, bukan menunggu. Mereka tak lagi duduk sebagai “warga” NU.

Di pemakaman Gus Dur, di dekat liang lahat itu, saya harapkan melihat Muhaimin dan Saifullah, atau Alwi, berbaju koko, bersarung dan peci, sebagai santri. Mereka menunggu Gus Dur, sang guru, dan berebut untuk ikut menurunkan jenazah ke bumi, sebagai penghormatan terakhir, sebagai tanda tiada keberjarakan. Mereka akan menguruki tanah makam, karena percaya, seperti  puisi Soebagyo Sastrowardoyo, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.

Tapi, tak ada Muhaimin sebagai murid di pemakaman itu, tak ada Saifullah sebagai santri, atau Alwi sebagai kiai. Mereka, seperti kata Pras tadi, hadir tak lebih sebagai tentara, berstatus pejabat negara, yang membuat Gus Dur “terhalangi” untuk mendapatkan penghormatan seintim mungkin dari para santri dan pecintanya.

Di pemakaman itu, saya melihat dua wajah pecinta, mereka yang melayat karena mencintai Gus Dur, dan mereka yang datang karena mencintai jabatannya.

PELACUR dan Luna Maya

December 30, 2009

Luna Maya marah, dan pelacur dia jadikan senjata. “Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…” tulisnya di twitter. Dan kita terperangah. Bukan. Bukan karena dia menghina infotainmen, melainkan diksi yang dia gunakan untuk mewakili umpatannya itu. Dengan pilihan kata itu, Luna bukan saja memaki infotainmen, melainkan, dan terutama, menghina pelacur. Tak heran jika di Tegal, para pelacur pun gerah dengan umpatannya itu.

Luna Maya, barangkali, belum pernah menonton Pretty Women. Di film itu, Vivian Ward, pelacur yang cantik itu, memikat kita bukan saja karena pesona fisiknya, melainkan “sejarah” hadirnya. Dia hidup dalam sebuah situasi yang membuatnya tak bisa memilih profesi lain, dan dia tidak bahagia. Di luar jam “layanan” itu, dia adalah sosok yang merdeka, lucu, dengan keluguan yang memancing iba. Dan kita jatuh cinta, terutama ketika mereka yang memandang hina dirinya, ternyata, lebih melacur dalam arti yang sesungguhnya.

Ada dua pelacur di film itu. Sebagai profesi, panggilan keadaan, dan sebagai sikap diri –ketertarikan jiwa. Vivian berada di posisi pertama, dan kita jatuh cinta. Pertama, karena dia punya cita-cita, memberi kita harapan. Kedua, karena profesi itu tak menghancurkan jiwanya, memberi kita rasa nyaman. Kita pun, dengan ringan, bisa menerima kehadiran Vivian, bukan sebagai sesuatu yang asing, apalagi hina. Kita tak pernah mempermasalahkan derajatnya.

Tapi Luna Maya tidak. Dia bicara derajat, dan juga neraka. Seakan derajat, dan juga neraka, adalah soal matematika, hal yang pasti, satu tambah satu sama dengan dua.

Tapi Luna tidak salah.

Kalau pun salah, dia tidak salah sendirian.

Luna adalah wakil dari kebanyakan orang yang memang menempatkan pelacur dalam level kasta terendah dari sebuah profesi, dan layak dijadikan ludah atau umpatan. Karena Luna, seperti kebanyakan orang lainnya, menempatkan profesi dalam skema moralisasi.

Moralisasi adalah sebuah sikap yang memandang apa pun dari kacamata moral. Dengan moralisasi, sebuah situasi selalu diukur dalam skala binner: hitam-putih, salah-benar, hina-mulia. Moralisasi menafikan penilaian yang lebih kaya warna, lebih adil, dan jujur. Termasuk untuk pelacur.

Karena pelacur bukan persoalan moral. Profesi ini bukan sikap diri –ketertarikan jiwa, melainkan ikatan keadaan. Sebagai panggilan keterpaksaan, pelacuran adalah problem sosial-ekonomi, dan dari kacamata itulah seharusnya dia dikaji. Melihat pelacur(an) dari kacamata moral, mengindikasikan sebuah ruang yang steril, hampa, sehingga menceng ke kiri adalah dosa, dan bergerak ke kanan menjumpa surga. Moralisasi dengan demikian bukan saja mengerdilkan melainkan juga menimbang sesuatu secara salah. Moralisasi, mengikuti kata Pramudya Ananta Toer, menjadi tidak adil sejak dalam pikiran.

Apalagi, dari kacamata moral pun, aktris, seperti Luna Maya, bukanlah profesi yang mulia. Di depan kamera –yang sangat berwatak lelaki–, aktris adalah “pelacur” juga. Bahkan, Koyuki Kazahana, Putri Salju dalam Naruto The Movie: Ninja Clash in the Land of Snow pernah berkata, “Menjadi artis adalah pekerjaan rendah yang bisa dilakukan semua orang. Bayangkan, kau harus menjalani hidup yang dipilihkan oleh orang lain.”

“Menjalani hidup yang dipilihkan orang lain,” kata Koyuki dengan nada pedih, yang membuat Naruto terpana. Betapa terasa tersiksa, dan juga hina. Apalagi, jika kita tahu, menjadi aktris lebih sering adalah ketertarikan hati, pilihan sadar, bahkan obsesi!

Tapi tentu, kita tak ingin seperti Luna Maya, yang memandang sesuatu dari moralitas semata. Kita harus lebih dewasa, dan belajar untuk terbiasa menilai sesuatu dari maqom-nya, bahkan ketika amarah mengambil kendali diri kita. Memakilah, mengumpatlah, untuk melonggarkan beban batin kita, tapi ingat, jangan jadikan pihak ketika sebagai senjata. Karena moralis ala “Silet” dan “Insert” bukan bagian dari kita. Karena kita punya Vivian, yang menunjukkan sisi sosial dan moral, dan kita jadi paham cara menempatkannya.

Jadi Luna, ayo kita tonton lagi Pretty Women. Berdua, saja. Ya??

Prasangka Keartisan

December 15, 2009

“Jika mungkin, saya ingin mencari kekasih dari kalangan orang biasa. Artis atau anak band membuat saya takut,” kata Aura Kasih.

Orang biasa. Kata itu jadi populer kini, untuk mendikotonomikan antara mereka yang aktris dan bukan. Dan tiap kali seorang aktris berkekasih “orang biasa”, infotainmen pun ramai menggunjingkannya. Seakan, orang biasa itu jadi aneh, sesuatu yang unik, tak biasa, dan mungkin, akan gagap dalam interaksi dengan pasangannya. Bahkan, dalam beberapa infotainmen, frasa “orang biasa” itu diucapkan dengan sedikit nada cemooh. Dengan kata lain, jika di luar aktris adalah “orang biasa” maka mereka yang aktris pasti masuk dalam kategori “luar biasa”.

Tapi, “luar biasa” dalam hal apa?

Ya, kita ingat klan Azhari. Untuk prestasi pamer tubuh mereka memang luar biasa. Skandal seks apalagi, tiap tahun nyaris ada. Atau Roy Marten, yang dua kali tersangkut kasus sama, kasus narkoba? Atau mungkin kisah semacam Krisdayanti, yang sudah memermak tubuhnya di sana-sini untuk tampil dalam kecantikan yang abadi?

Luar biasa, dengan demikian, hanya mengandung pengertian tentang mereka yang mampu melakukan hal-hal yang tidak umum dilakukan khalayak. Bukan saja karena mereka punya keberanian, melainkan memiliki kuasa uang. Dan yang utama, predikat untuk “tampil berbeda”. Luar biasa menegaskan tentang sesuatu yang dapat mereka lakukan dan tetap dianggap pantas.

Juga tentu, menyangkut moralitas.

Masalahnya adalah, tidak semua mereka yang “luar biasa” itu dapat digolongkan dalam “kelas” yang sama. Keluarbiasaan mereka terkadang dicitrakan dengan moralitas yang “bebas-dosa.” Kita ingat bagaimana Pasha Ungu begitu disorot media setelah sukses album religinya. Bersama Enda, Pasha bercerita bagaimana sisi spiritual mereka, ilham lagu yang demikian kuat, datang seperti kilat, lebih sebagai titipan ilahiah. Dan praktis, busana mereka pun mengikuti. Pasha jadi berpeci, berbaju koko, dan tiba-tiba menjadi sahabat dekat ustad gaul Jefri al-Buchori. Pasha, tiba-tiba, di mata kita, menjadi ikon anak muda yang amat kenal agama dan takwa.

Lalu muncul juga Marshanda. Aktris ini memang punya banyak pemuja setelah sukses berperan dalam sinetron “Bidadari”. Wajahnya yang belum jauh dari remaja dan terlihat polos, selalu menimbulkan rasa sayang setiap melihatnya. Tingkahnya yang sopan, berbicara nyaris tanpa teriakan, dan tak pernah terkena gosip murahan, membuat Cacha terbentengi dari “prasangka keartisannya”.

Prasangka keartisan adalah sejenis praduga bahwa sebaik apa pun seorang aktris tampil di media, penonton selalu percaya bahwa mereka memiliki sisi nakal yang tak ditampakkan. Nah, Marshanda bebas dari itu. Pertumbuhannya dari penyanyi remaja sampai kini dewasa, terjaga dengan ketat. Ada selalu ibu di dalam setiap langkahnya. Marshanda pun menjadi contoh sempurna aktris remaja. Dia seakan menjadi protagonis Sheila Marcia.

Tapi tampaknya, stigma itu mewujud juga.

Pasha, tiba-tiba terbukti sangat tempramental, dan suka main tangan. Okie Agustina yang mendampinginya dari mulai “bebek” sampai dia menjelma “angsa” pun angkat tangan, menyerah, mengembalikan rumah tangganya ke pengadilan: bercerai. Bahkan, setelah perceraian pun, Pasha masih menghadiahkan kekerasan kepada istrinya. “Tempramental. Dia suka memukul saya di depan anak-anak, dan juga memukul anak-anak,” terang Okie.

Marshanda sebaliknya,  mulutnya yang biasa melantunkan nada lembut dan asma Ilahiah, tiba-tiba tersebar di <I>youtube<P> dengan sumpah-serapah. Tak ada lagi kendali. Pasha dan Cacha telah muncul sebagai tawanan amarah. Mereka tak ubahnya sosok “orang biasa” yang jika emosi dan dalam tekanan jiwa, melakukan tindakan yang terkadang tak pernah dipikirkan. Lalu, semua terpana. Tak mengira, bahwa pribadi yang demikian terjaga dan menjadi sandera citra, dapat juga terlempar dalam laku “orang biasa”.

Lalu, di mana beda tegas antara aktis –yang mengklain sebagai luar biasa– dan kita-kita yang diklain media sebagai kaum biasa? Satu saja. Jika berbuat salah, kita mengakuinya dan berusaha tak mengulanginya. Sementara mereka, para sandera citra itu, tak pernah merasa salah, tak pernah mencoba memperbaikinya. Tak heran, kita sering mendapatkan mereka terjerembab, berkali-kali, di dalam kesalahan yang sama. Betapa luar biasa!

Terjerat dalam Diva

October 31, 2009

Krisdayanti memang seorang diva. Diva bukan saja karena performa suara dan pencapaian karier bermusik, melainkan juga gaya dan kepintarannya membawa diri, dan membahasakan perilakunya. Lihatlah.

Lihatlah di televisi. Setelah lama berdiam diri, dan hanya tampil sesekali untuk bernyanyi di “Inbox” SCTV atau “Dahsyat” RCTI, KD, demikian dia biasa dipanggil, menggelar jumpa pers setelah resmi menjadi janda, dengan bahasa dan gaya yang sempurna. Krisdayanti tidak saja tampil dengan percaya diri dan dapat bercanda dengan kerling mata, atau gelak tawa, tapi juga mampu memilih diksi yang kuat dan kalimat bijak untuk menyampaikan pendapatnya.

Misalnya, untuk kegiatan dia selama “menyepi” dari media, ibu dari Aurel dan Azriel ini berkata, “Saya lebih banyak baca dan berpikir. Lebih intens kepada ibadah untuk mengobati batin saya.”

Dalam masa “berobat” itu, KD tak menerima telepon siapa pun, dan menonton berita apa pun. Dia menutup diri. Tapi, bagi KD, bukan itu yang terjadi. “Saya enggak menutup diri. Saya diam karena hal itu tepat, di saat orang menyalahkan saya. Ini masalah kamar dan enggak ada yang berhak ikut campur. Saat ini saya bisa menerima dan berbicara, hanya saya, Anang, dan Allah yang tahu,” ucapnya, yang mengaku tidak menggunakan ponsel dengan nomor yang biasa dia gunakan selama dua bulan.

Pelantun “Aku Wanita Biasa” itu pun mengaku tak lagi terluka. “Tapi Alhamdulillah, sekarang lahir batin saya sudah sembuh. Saya berusaha menutupi kesedihan saya untuk melawan kesedihan ibu saya. Ya double kerja keras,” ujarnya.

“Tidak ada yang berubah, saya ikhlas,” katanya mengenai dirinya setelah menjanda. Atau, “Saya ingin membahagiakan orangtua dan keluarga saya di masa depan.” Juga pengakuan, “Saya sekarang telah menjadi single mother dan harus bekerja untuk anak-anak saya. Saya ikhlas hak asuh anak-anak jatuh kepada ayah mereka. Saya yakin Anang akan bertanggung jawab atas anak-anak.”

Sempurnalah.

KD memang selalu sempurna di depan kamera. Bahkan, ketika mengumumkan keretakan rumah tangganya, di bulan puasalalu , dia memulai dengan kalimat yang bercahaya. “Saya yakin ini adalah hari yang berat, karena saya sedang menjalankan ibadah. Tadinya, saya tidak mau, tapi saya harus mengikhlaskan ibadah saya terganggu dengan pemberitaan yang ada.”

Soal pilihan cerai, dia bahasakan dengan, “Saya dan Anang memutuskan tidak melanjutkan kerjasama menyatukan hubungan tali pernikahan. Saya dan Anang memutuskan tali pernikahan dalam keadaan terbuka, tidak mencari kesalahan.”

Dahsyat!

Tapi, hidup seseorang bukan hanya tercatat dan dilihat dari yang tampak di mata kamera.

Sebelum perceraian itu, kita tahu, KD baru saja meluncurkan buku Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret. Dalam buku itu, KD mengaku tak sempurna. Sosok yang tampil di depan kamera itu, adalah diri imitasi, sebagai harga yang harus dia tebus untuk para penggemar yang membayar mahal agar dapat menikmati dirinya. Buku itu, bagi KD, adalah fase terpenting dalam hidupnya, ketika sudah dapat memaafkan diri sendiri.

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku itu.

Artinya, setelah buku itu terbit, KD tak ingin lagi berlaku seperti apa yang dia pertunjukkan dan akui selama ini. Akan hadir KD yang berbeda.

Dan, peluncuran buku itu belum lama. Penggalan pengakuannya masih terngiang di telinga pembaca, termasuk asmaranya yang berkobar bersama Anang, paska permak paha dan payudara. “Anang grogi,” akunya.

Lalu, semua sia-sia.

Pengakuan itu tak lebih fatamorgana.

Buku itu, pengakuan tak sempurna itu, adalah rekayasa paling sempurna untuk “menjual” dirinya. Pengakuan pertobatan itu adalah citra yang paling penting untuk dapat diterima massa. Perasaan bersalah itu adalah magnit yang dia tembakkan untuk mendapat simpati.

Bukan rasa bersalah yang lahir dari dalam diri. Bukan, meminjam diksinya, “kejujuran yang menuju puncak kedewasaan.”

Semua cuma rekayasa. Permainan panggung. Pemanfaatan media. Pertukaran citra.

KD tak pernah berubah. Karena di dalam dirinya, dia tak pernah merasa bersalah. Termasuk juga perselingkuhan itu, yang disaksikan Aurel, anaknya. Atau kesakitan yang diterima Anang dan anak-anak mereka karena pengakuannya bahwa dalam pernikahan itu dia tak pernah merasa bahagia. Karena, kita harus tahu, sudah sejak lama Krisdayanti tidak hidup untuk dirinya, untuk suaminya, anak-anaknya, atau keluarga besarnya.

Krisdayanti hidup untuk penggemarnya. Untuk seluruh citra yang dia bangun. Untuk semua kesempurnaan yang tercipta di dalam benaknya.

Maka tak salahlah kalau dia mendapuk diri menjadi diva, yang rela mengorbankan banyak hal agar selalu dapat terlihat sempurna.

Untunglah, kita selalu tahu, karena tak sempurnalah maka kita disebut sebagai manusia.

Katuranggan Miyabi

October 15, 2009

Maria Ozawa memang digdaya. Dia tiada, absen, tapi “hadir”, nyata. Kehadirannya bahkan lebih gempa daripada berita penanganan akibat prahara di Padang sana. Di halaman depan beberapa media, Ozawa terpampang sembari tertawa. Lanjutan berita bencana Sumatra, tersingkir. Dan begitulah, semua pun menjadi latah, memberi opini, merilis biografi atau filmografi, mendukung atau menolak Miyabi.

Sekian saat, kita lupa, bahwa ada persoalan yang lebih besar daripada Ozawa. Ada Ramlan, yang untuk hidup dan keluar dari puing gempa, dengan bismillah, memotong kakinya. Ada Sari dan Suci, yang selama 48 jam, berdoa dan mengerangkan nama anaknya, sampai pertolongan datang. Ada ribuan korban tanpa nama, puluhan bayi yang mengganti susu dengan mi, ratusan rumah hancur, tangis, jerit, wajah putus asa….

Gempa itu, pekik, jerit pilu, yang hadir sebagai kiamat kecil di Padang sana, nyaris alpa di percakapan facebook kita. Tengok Ozawa, “status” facebook dipenuhi namanya, hadir antara cibiran dan doa. Kelompok aktivis perempuan, tokoh politik, aktris dan pengamat film, akhirnya ikut dalam keramaian percakapan syahwati itu. Bahkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin pun, merasa harus mengomentarinya. “Kami tetap menolak walau dia tidak membuka auratnya. Miyabi itu mukanya muka porno. Sudah sangat transparan,” katanya dengan santai, sebagaimana dikutip Kompas Cyber Media, Selasa (14/10).

“…mukanya muka porno.” Dan wartawan yang berada di sana pun menderaikan tawa.

Saya juga tertawa. Menertawai, tepatnya. Karena, akhirnya, tersingkaplah semua, kontroversi itu datang bukan dari sebuah perdebatan yang ada dasarnya. Muka yang porno itu, benarkah milik Miyabi? Tidakkah “tafsir” kepornoan itu lahir setelah melihat profesinya? Artinya, di wajah Miyabi diletakkan sebuah imaji. Wajah itu dibaca bukan sebagai selembar kertas, melainkan sebrangkas dokumen. Jika busana tak dapat menutup aurat dan syahwat, untuk apa perintah jilbab?

Di sinilah kita menemukan bahwa “muka porno” itu, tidak dipandang dalam laku katuranggan. Ilmu titen itu, kita tahu, lahir dari “kekosongan” masa silam objek. Dia adalah pencocokan dari satu kasus ke kasus lainnya. Dari satu eksemplar wajah ke satu eksemplar wajah lainnya. “Jika wajahnya seperti si anu, memiliki kesamaan, maka tingkahnya, lakunya, mungkin tak jauh berbeda.” Katuranggan dengan demikian adalah menyamakan sesuatu yang mirip dari sosok yang berbeda. Wajah si A yang mirip dengan si B.

Pendapat KH Ma’ruf, kita tahu, tak berada di wilayah itu. Miyabi dia “katuranggankan”, dia persamakan, di dalam dirinya sendiri.

Lihatlah Miyabi dalam busana kesehariannya, ketika dia memakai busana tertutup. Wajah itu, muka itu, tak berperbawa porno. Lihatlah Miyabi ketika tanpa busana, dalam adegan film mesumnya, wajah itu, bagi saya, tetap tidak bermuka porno. Miyabi, dalam keadaan apa pun, wajahnya lebih sering minta dikasihani, disayangi, di-iba-i, daripada dinafsui.

Karena memang, persoalan Miyabi bukan pada wajah.

Karena kepornoan tak akan pernah dapat dicerminkan hanya dari wajah seseorang. Kepornoan itu, Amin, adalah produksi pikiran.

Meski Serat Centhini, terutama dalam pupuh Balabak, juga dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna memuat katuranggan wajah yang “porno”, tapi ciri itu nyaris tak dimiliki Miyabi. Miyabi tentu tidak berpandangan nguwung, bertubuh agak melengkung, roman muka galak, dan rambutnya panjang dengan sinom menggumpal. Sekali lagi, persoalan Miyabi bukan pada wajah, yang bahkan, menurut Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa, “sesuatu yang rumit karena seks tidak bisa dinilai hanya dari segi penampilan lahiriahnya semata.”

Sekali lagi, kontroversi dan keramaian Miyabi di sini, bukan pada wajahnya, atau pada profesinya. Karena sesungguhnya, dalam tiap percakapan itu, Miyabi absen, tak hadir. Yang ada, dan nyata, sebenarnya adalah percakapan syahwat kita, kegembiraan kita memperbincangkan hasrat, keliaran fantasi. Miyabi atau Ozawa hanya media, objek, barangkali juga pintu, saluran dari nafsi kita.

Memperbincangkannya, kita mendapatkan surga, sembari melempar dosa dan neraka pada wajahnya.

Yang tak Diambil Maut

August 18, 2009

Benarkah kematian datang tanpa rencana, selalu tiba-tiba?

Kita bisa menjawab, tidak. Kematian selalu datang seperti tamu yang telah dijadwalkan datang. Dia mengetuk, dan kita mengizinkannya masuk. Mbah Surip misalnya, melafalkan izin itu, sebagaimana yang tayang di televisi. “Jika nanti mati, Mbah pengen dimakamkan di Bengkel Teater Rendra, di bawah pohon jengkol dan pohon kopi, hahahaha…” katanya.

Maut, memang datang tidak dengan wajah yang kejam. Dan terkadang, kita gagal mengenalinya. Mbah Surip pun kita anggap bercanda. Tapi ketika kematian itu terwujud, kita jadi paham, sang Maut memang punya banyak wajah. Dia memberi isyarat meski tak selalu dapat ditangkap.

Kematian, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang jauh. Dia dekat, dan dapat diamati, dicatat, jika kita cermat. Kematian, meminjam Subagyo Sastrowardoyo, seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa -itu bahasa semesta yang dimengerti. Dan karena akrab, kematian tidak menjaraki yang hidup dan mati. Lihat, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.

Tak ada yang hilang, semua pulih. Betapa benarnya.

Kematian, pada dasarnya, memang tak mengambil apa-apa. Memang ada tubuh Mbah Surip yang terbujur kaku, ada tangis yang mengiris, terbang bersama udara yang pengap, ada tawa hahahaha yang tiba-tiba lindap. Tapi, maut tak mengambil spirit, jiwa. Hari-hari ini, kita menemukan kenyataan itu: dalam tiap lagu “in memoriam” Mbah Surip, kita masih merasakan ruhnya, mendapatkan karakternya.

Maut, bisa jadi, hadir bukan dengan maksud untuk meringkus “yang hidup”. Tak heran kalau Eckhart Tolle meyakini, “Kematian itu tidak ada. Yang terjadi hanyalah perubahan energi. Jadi, sebagai energi, yang mati itu tetap dapat terhubung dengan kita kembali,” kata penulis buku A New Earth, dalam acara “Oprah Winfrey Show”.

Tolle benar. Yang tak dikalahkan kematian, “yang hidup” itu, bahkan menempati jalur yang bebas hambatan. Dia tidak lagi Mbah Surip yang harus tergantung pada kopi, ojek, atau supir, tapi “Mbah Surip” yang abadi, yang berjalan-jalan dalam bentuk energi: kenangan. Kenangan itu, adalah keabadian yang dititipkan sang maut, sebagai tanda, kematian tak pernah utuh menjemput. Ada yang tetap ditinggalkannya untuk yang hidup, sebagai kawan duka, bahwa memang ada yang pergi, tapi tidak selamanya. Ada yang berpulang, tapi bukan tidak kembali. Kenangan akan terus memanasi ingatan, membuat yang tiada kembali menjadi ada.

Tak gendong ke mana-mana/ Tak gendong…. Dengarlah, bukankah dalam kepala kita, tetap hadir sosok berambut gimbal itu, dengan topi tiga warna, tubuh yang condong, dan tawa kerasnya, HAHAHAHA….

Tubuh itu terbujur kaku, kita tahu. Tapi, kita pun menyadari, bukan tubuh renta bau kopi itu yang kita cintai. Yang selama ini menyentuh kita adalah jiwa yang bersembunyi di dalamnya, yang “jelata”,  seperti sahabat setelah lama tak jumpa: rindu.

Maka, dalam tiap kematian kita tahu, tangis selalu sementara. Tapi kenangan, –sapa sahabat yang lama tak jumpa itu– abadi bersama kita. Hari-hari ini, seperti klipnya, kita pun menggendong Mbah Surip ke mana-mana. Dia selalu hidup bersama kita.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" dalam tabloid Cempaka, Sabtu 9 Agustus 2009]

Ketelanjangan Krisdayanti

July 28, 2009

Dapatkah kita hidup dalam citra, bergubal kebohongan, kamuflase, dan laku sempurna? “Harus!” kata Krisdayanti.

Tapi itu dulu.

Hari-hari ini, istri Anang Hermansyah itu mengakui, bernapas dalam kebohongan bukanlah sebuah kehidupan.

Dalam buku terbarunya, Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret, dia mengungkapkan banyak rahasia; dia tak pernah sempurna. Dadanya yang penuh itu lahir dari pahatan operasi. Pinggang yang langsing dan kulit bersih berseri datang bukan dari sebuah proses yang alami, tersaru obat dan suntikan di sana-sini. Rumah tangganya pun penuh cela. Anang pernah menceraikannya. Dia berkali-kali nyaris terperosok dalam liang perselingkuhan, dan dalam kegamangan, menjadikan sabu-sabu sebagai pegangan.

Apa yang kau cari, Krisdayanti?

Tahukah engkau, keterusterangan itu bukan saja menyakitkanmu, tapi juga banyak orang?

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku tersebut, di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis 16 Juli lalu.

KD juga sadar, ada resiko dalam tiap kejujuran. Dan dia siap. “Keberanian itu baru muncul saat ini. Proses jujur dan ikhlas itu sulit. Inilah saat yang tepat,” ucapnya.

Kita tak tahu, tepat yang dimaksud KD itu dalam konteks apa. Tepat karena dia sudah melewati semua dan dapat berdamai dengan “kejahatan” itu, atau tepat untuk dijual, dikomersilkan. Karena, bagaimanapun, “kejujuran” KD mengandung anomali. Di buku pertama, yang memotret KD secara sempurna, dia percaya kesempurnaan akan menginspirasikan banyak orang. Profesionalitas itu penting bahkan yang utama. Di buku kedua, KD meyakini, masalah dia yang selama ini tersembunyi dapat menjadi inspirasi, memberi energi bagi orang lain. Di sini, kebohongan dan kejujuran mendapatkan tempat yang sama.

Anomali kedua, “kejujuran itu” dinyatakan secara provokatif dan promotif. Provokatif karena, “KD cerita komplet soal cintanya dengan Anang. Soal seks di mobil, stoking jaring-jaring yang khusus dia pakai untuk Anang,” terang Alberthiene Endah, penulis buku itu. Ditambah dengan, “KD bercerita betapa hangat dan liarnya percintaan mereka.” Promotif karena, “Buku ini berbeda. Semua cerita yang ada di sini tidak pernah saya ceritakan kepada media mana pun,” terang KD. Dan, “KD tidak pernah mau menangis di depan orang. Dia ingin melihat semua orang tersenyum. Itulah KD,” tambah Alberthiene.

Anomali ketiga, “kejujuran” itu pun masih memiliki rahasia. “Mengenai isu perselingkuhan, itu menyangkut nama orang, keluarga, maupun instansi yang tidak tepat untuk dibicarakan. Saya memutuskan untuk tidak menulis karena nanti itu akan menjadi sebuah prejudice,” ucap KD.

Anomali keempat, buku itu masih tampil dalam bentuk KD yang sempurna. Di dalamnya masih berisi foto-foto yang terkonsep dengan baik, dan memamerkan tubuh yang menyimpan banyak kebohongan itu. Porsi KD yang apa adanya, yang ikhlas itu, yang kini, dia akui, telah dia dapatkan, justru terasa tak ada. Sekilas, KD lebih terlihat bangga dengan hasil dari “ketidakjujurannya” selama ini.

Bagaimana kita membaca penelanjangan diri itu? Benarkah ini hanya “pengakuan” dosa saja, dan bukan pertobatan?

Dari Arswendo kita dapat mencari jawaban. Dalam novelnya, Blakanis, pengarang itu membicarakan kejujuran dalam konteks yang berbeda. Kejujuran yang tak memiliki banyak sisi, apalagi menyimpan rahasia. Kejujuran itu bukan saja membebaskan diri dari prasangka diri, tapi juga prasangka orang lain. Kejujuran pun bukan terletak pada pengakuan dosa, salah, khilaf, kepada orang lain, apalagi dikomersialkan, melainkan dalam laku. Jujur dalam laku tidak meminta tepuk tangan, anggukan, persetujuan, bahkan jepetan kamera. Tapi, “…Melakukan kejujuran, istilahnya hidup blaka,” kata Ki Blaka, tokoh utama novel itu.

Dan sampailah kita pada kesimpulan Ki Blaka, bahwa kejujuran punya musuh. “Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. baik pura-pura jujur, atau pura-pura bohong.”

Kita, meski menemukan banyak anomali dari “kejujuran” Krisdayanti, tentu saja lebih baik tidak menduga bahwa dia tengah berpura-pura. KD, barangkali, hanya tengah mencoba menjual dirinya yang berbeda, yang tidak pernah dia ungkap ke media. Itu saja.

Dan, saya sendiri, entah mengapa, jadi ingat Manohara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 26 Juli 2009]

Tangisan Penonton Perempuan

May 19, 2009

Di dunia ketiga, masihkan teve wakil dari mata pria?

Tangisan selalu dimulai dari perempuan. Setidaknya, begitulah yang acap kita lihat di layar televisi. Di acara “Masihkah Kau Mencintaiku???” yang tayang setiap Rabu malam di RCTI misalnya, 15 menit terakhir pasti diwarnai air mata. Bahkan, tangisan penonton perempuan itu seakan menjadi menu, karena ditampilkan secara close-up, dari satu wajah ke wajah penonton yang lain, mulai gerakan menyusut air mata, menutupkan sapu tangan ke wajah, sampai tarikan napas berat menahan sedan.

Tangisan penonton itu sekilas terlihat wajar. Maklum, di 15 menit terakhir, Helmi dan Dian Nitami memang mengondisikan acara  untuk masuk dalam suasana haru melalui peluk dan isakan; narasumber yang bermaafan. Penonton terbawa, air mata tersita. Namun, tangisan penonton perempuan itu juga tumpah untuk acara yang tak dikondisikan berharu-haruan. Di “D-Show” TransTV Senin (4/5) misalnya, acara itu penuh tawa. Julia Perez membuat Desi Ratnasari tergelak, meski dia bercerita tentang ibunya yang menolak Gaston Castanyo. Dialog ibu-anak itu menyegarkan, seperti percakapan mereka di dapur rumah, tanpa basa-basi, apa adanya. Tapi, tawa penonton itu secara cepat berubah jadi tangisan ketika narasumber yang lain, Siska, mengungkapkan juga penolakan ibunya untuk asmara dia dan suaminya. Perpindahan tangis ke tawa ini terasa menakjubkan. Betapa gampang penonton perempuan merasa, terlena….

Bahkan, tangisan semacam itu juga terjadi di acara musik.

Okky Lukman yang berhasil membawa hadiah Rp 100 juta dalam acara “Missing Lyrics” Trans TV, juga memancing tangisan penonton. Okky, memeluk ibunya, jejingkrakan tertawa-tawa. Di sekitar panggung, beberapa menonton menyusut air mata. Ajaib. Di final “Dream Girl” Global TV (13/5) yang mempertemukan trio Topodade dan 3G, penonton bahkan terisak nyaris sepanjang acara. Padahal, di panggung tak ada pertunjukan keharuan ala “Indonesian Idol”, “Idola Cilik”, atau “AFI”. Topodade hanya bernyanyi, sebaik-baiknya. Bukan lagu sedih, terutama ketika bersama Idol Divo mereka menyanyikan “Hitam” milik Andra & The Backbone. Dan penonton, juga Sita RSD yang menjadi juri, tak hanya memberi tepukan, tapi juga tangisan.

Haru. Sesak. Isak.

Air mata.

Bagaimana bisa bertandang?

Kecairan Identitas

Ya. Dari mana datangnya air mata? Mengingat, bahkan acara sejenis “Masihkah Kau Mencintaiku???” saja, menyisakan lobang logika, sehingga amat terlihat yang terjadi di panggung adalah semata rekayasa. Kesedihan di pentas itu, seharusnya, tak akan memancing tangis. Apalagi nyanyian Topodade. Tapi, kritikus Macherey punya jawaban. Dalam bukunya, A Theory of Literary Production, dia mengatakan setiap pembaca, juga penonton, selalu berada di antara representasi dan figurasi. Representasi adalah tujuan yang ingin disampaikan, subjek narasi, niatan. Sedangkan figurasi merupakan pembubuhan di dalam narasi, yang kadang hadir melalui efek pembayangan. Dalam tindak figurasi, pembaca atau penonton melakukan produksi teks atau cerita sendiri. Dengan kata lain, terjadi “pembentukan” teks atau cerita baru di benak penonton yang bisa jadi berbeda dari yang tersaji di atas panggung. Bahasa gampangnya, penonton melakukan pengkhayalan kembali.

Pendapat Macherey di atas didukung oleh Thomas Elsaesser. Dalam Cinema Futures: Cain, Abel or Cable? The Screen Art in the Digital Age, dia menulis bahwa televisi yang visual sangat mendorong efek figural, menghadirkan dunia tiruan, dunia bayangan. Penonton pun tumbuh dan hidup dalam dunia rekaan. Jadi, jika pun ada tangis, air mata itu tumpah bukan karena cerita yang tersaji, melainkan lebih karena proses keterlibatan dalam sebuah “kesedihan yang dibayangkan, direka-ulang”.

Tapi mengapa penonton perempuan? Neil Postman punya jawaban. Sebagaimana yang juga dikutip Wilson Sitorus, dalam Amusing Ourselves to Death, Postman mengatakan televisi merupakan dunia kapitalis laki-laki yang tak ramah kepada masyarakat lain di luar itu. Dan sebagai “wakil” lelaki, televisi sangat digdaya menghadirkan dan memancing figur/cerita khayalan. Penonton perempuan adalah mangsa, korban. Meski pandangan Postman ini mulai diragukan para feminis, terutama oleh Gamman dan Marshment melalui The Female Gaze: Women as Viewrs of Popular Culture, tapi di dunia ketiga, televisi memang masih menjadi wakil pria.

Di Indonesia, pendapat Postman didukung data AGB Nielsen, bahwa penikmat terbesar televisi adalah perempuan. Dan efek figurasi itu makin kuat karena penonton perempuan tadi berasal dari strata sosial dan ekonomi D-E. Artinya, pendidikan penonton perempuan ini sebagian besar maksimal SMP, dengan pengeluaran bulanan tak lebih dari satu juta rupiah, dengan ketidakmampuan memiliki barang mewah seperti kulkas dan penyejuk ruangan. Mereka adalah ibu-ibu dan gadis.

Namun, lebih dari faktor pendidikan dan ekonomi, pembayangan cerita dan keterlibatan penonton tercipta karena proses pembentukan identitas feminin dalam model cerita sinematik. Mengikuti argumen Stacey dalam Star Gazing: Hollywood and Female Spectatorship, figurasi terjadi karena tercipta kecairan sementara (temporary fluidity) di antara identitas penonton dan aktor. Kecairan dan “pertukaran” identitas itu biasanya dipicu faktor kesamaan keinginan, nasib, dan hasrat-hasrat yang secara potensial ingin mereka penuhi. Maka, apa yang terjadi di atas panggung, secara sementara, tercipta juga pada penonton. Kesedihan, tangis, meskipun itu rekayasa pemanggungan, bagi penonton, bukan  hanya sebuah tayangan melainkan menjadi internalisasi diri, dirasakan, dialami….

Penonton perempuan melompat ke dalam cerita, memainkan perannya. Maka wajar, jika kemudian mereka bersimbah air mata.

Next Page »