Kian menekan, Polisi Myanmar tembakkan peluru karet ke arah pendemo anti-kudeta

  • Whatsapp
1621804831p

ILUSTRASI. Polisi menyemprotkan kanon air ke arah pengunjuk rasa yang berdemonstrasi menentang kudeta dan menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, di Naypyitaw, Myanmar, Senin (8/2/2021).

Sumber: Channel News Asia | Editor: S.S. Kurniawan

Read More

RUMAHPUTIH.COM – NAYPYIDAW. Polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata ke pengunjuk rasa anti-kudeta di ibu kota Myanmar pada Selasa (9/2), ketika para demonstran di seluruh negeri menentang larangan militer untuk berkumpul menyampaikan pendapat.

Protes meletus selama empat hari berturut-turut menentang kudeta 1 Februari untuk menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, kendati ada peringatan dari junta baru bahwa mereka mau mengambil tindakan terhadap demonstrasi yang mengancam “stabilitas”.

Di Naypyidaw, ibu kota Myanmar yang dibangun oleh rezim militer sebelumnya, saksi mata mengatakan, polisi menembakkan peluru karet ke pengunjuk rasa setelah sebelumnya “meledakkan” mereka dengan meriam air.

“Mereka melepaskan tembakan peringatan ke langit dua kali, kemudian mereka menembak (ke arah pengunjuk rasa) dengan peluru karet,” kata seorang penduduk kepada AFP yang menambahkan, dia melihat beberapa warga terluka, seperti dilansir Channel News Asia.

Baca Juga: Kian represif, polisi Myanmar tangkap puluhan pendemo penentang kudeta militer

Unjuk rasa tolak kudeta militer di Yangon

Seorang reporter AFP di lapangan mengonfirmasikan, polisi melepaskan tembakan dengan peluru karet.

Di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Memperluas larangan unjuk rasa

Setelah menyaksikan ratusan ribu warga berdemonstrasi menentang kudeta 1 Februari, Panglima Tertinggi Militer Jenderal Min Aung Hlaing menjadikan pidato di televisi pada Senin (8/2) malam untuk membenarkan perebutan kekuasaan.

BACA JUGA:  Sudah naik 4 kali, anggaran PEN kini melesat jadi Rp 627,9 triliun, ini alokasinya

Militer telah melarang pertemuan lebih dari lima warga di Yangon, pusat komersial Myanmar, serta Naypyidaw dan daerah lain di seluruh negeri, di mana demonstrasi besar meletus, termasuk di Mandalay.

Jam malam juga diberlakukan di lokasi-lokasi protes.

Baca Juga: Myanmar memanas, demonstrasi melawan militer yang berkuasa terus berlanjut




Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *