Pendidikan karakter anak sinergi warga tua hingga teknologi

  • Whatsapp
Program Merdeka Belajar 180220 aaa 2
Jakarta (RUMAHPUTIH) – Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puspeka Kemendikbud) RI Hendarman, Ph.D. mengatakan, pendidikan karakter anak ketika belajar di rumah merupakan sinergi dari warga tua, pemerintah, hingga kehadiran teknologi yang menunjang proses belajar.

“Sejalan dengan program Merdeka Belajar, prinsipnya pemangku kepentingan ikut serta berkontribusi di dunia pendidikan dengan peran masing-masing dan bersinergi,” kata Hendarman dalam jumpa pers daring, Rabu.

Baca juga: DPR dukung pemerintah basmi kekerasan seksual di lingkungan pendidikan

Hendarman menilai, peran warga tua untuk membantu anaknya belajar di rumah dengan menggunakan teknologi sangat penting. Sehingga, sama seperti anaknya yang sudah terpapar teknologi sejak dini, warga tua juga harus mau belajar dan beradaptasi.

“Karakter (anak) dibentuk bukan hanya di sekolah, tapi, di saat seperti sekarang, dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), mau tak mau warga tua harus bertanggung jawab, karena dasarnya warga tua merupakan guru pertama dan utama. Karakter tidak dapat tumbuh mendadak, ada proses panjang yang membentuknya menjadi kebiasaan,” katanya.

“Sementara, teknologi merupakan alat bantu buat kita memperkuat karakter anak. Diperlukan pemahaman yang sama (dari warga tua dan guru), dan itu dapat dimulai kalau kita edukasi dan saling komunikasi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Hendarman memberikan rangkuman menarik bagi warga tua untuk dapat membantu proses belajar anak, dan menjadikan anaknya berkarakter sesuai nilai positif. Rangkuman tersebut ia singkat menjadi “CINTA”.

Huruf “C” berdiri untuk “contoh”. Warga tua menjadi contoh bagi anak untuk menerapkan karakter positif dan menjadi teladan. Sementara “I” berdiri untuk “ingat”, dimana warga tua harus ingat tujuan posiitif selama proses pengasuhan, dan harus ada persepsi sama untuk menjadi manusia yang baik.

BACA JUGA:  Twitter perkirakan pertumbuhan pengguna melambat pada 2021

Selanjutnya merupakan huruf “N” untuk kata “normalisasi”. Normalisasi diskusi isu sosial, biar anak memahami baik-buruknya sesuatu, berdasarkan tingkatan usia mereka.

Huruf “T” berdiri untuk kata “tempat”, di mana warga tua harus dapat menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak untuk mencurahkan perasaan dan pemikirannya.

“Yang terakhir, merupakan ‘A’, yaitu amati momen-momen yang dapat dijalankan sebagai karakter positif anak. Warga tua harus aktif melihat lingkungan dan mengenalkan media dan hal-hal menarik untuk anak,” kata Hendarman.

Hendarman juga menyebutkan bahwa kementeriannya juga telah melakukan pendekatan berbasis teknologi dan audio-visual untuk pendidikan karakter anak.

“Anak sekarang agak susah mendengarkan (warga tua), maunya yang cepat dan menarik, dan tertarik ke audio-visual. Atas pertimbangan itu, kami gunakan kampanye media, seperti video pendek, iklan layanan masyarakat, infografis, komik, yang semuanya dapat diakses di gadget sendiri,” pungkasnya.

Baca juga: Memperkuat karakter siswa dengan konsep Ki Hajar Dewantara

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *