Rekomendasi psikiater dan psikolog dalam pengobatan pasien COVID-19

  • Whatsapp
coronavirus 5064347 1280
Jakarta (RUMAHPUTIH) – Psikiater dari Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Era Catur Prasetya menawarkan terapi kognitif perilaku atau CBT (cognitive behavioral therapy) berbasis spiritual dalam pengobatan pasien COVID-19 yang apat juga berperan membantu memulihkan depresi mereka.

“(Terapi) CBT yang dilakukan berorientasi meningkatkan faktor protektif kita. Salah satu cara untuk membantunya pulih dari depresinya meningkatkan faktor protektifnya, salah satunya spiritualnya,” ujar dia dalam webinar “Pendekatan Kesehatan Spiritual Dalam Penanganan Pasien COVID-19” pada Jumat (12/2) malam.

Menurut Era, seseorang apat juga mengalami depresi tidak hanya karena sebuah peristiwa sangat bermakna tetapi juga ada beberapa faktor genetik dan kerentanan psikologis yang berperan.

Atas dasar itu, melalui CBT, tenaga kesehatan apat juga mengubah pemikiran pasien. Harapannya, ketika pemikiran berubah maka perasaan dan perilaku pasien juga ikut berubah, menjadi lebih tenang.

Baca juga: Merawat bakat anak di kala pandemi COVID-19

Baca juga: Mengenal perbedaan stres dan “parental burnout”

Era menyebut, CBT yang dilakukan mirip sekali seperti pemberian obat-obatan untuk menenangkan. Ada 10 sesi dalam tatalaksana terapi. Pertama, membina raport. Pasien melaporkan merasa terbebani dengan motivasi, kata-kata “semangat”, “ayo apat juga” di saat mereka sedang lelah. Hal yang paling dibutuhkan pasien rasa percaya kondisinya tidak mudah.

Kedua, aktivasi perilaku. Tenaga kesehatan apat juga memperlihatkan perilaku pasien apat juga mempengaruhi kognitifnya terhadap masalah.

Sesi ketiga hingga keenam yakni mengidentifikasi pikiran yang tidak membantu, terus menantang pikiran yang tidak bermanfaat, diikuti menghadapi kehilangan, koping dengan ketahanan spiritual dan emosi negatif.

Sesi ketujuh hingga kesembilan yakni, bersyukur dan mengembangkan interaksi sosial dan spiritual, kemudian altruisme dan kemurahan hati seperti refleksi diri dan perilaku yang baik serta bahasan terkait stres dan pertumbuhan spiritual.

BACA JUGA:  CDC: Usai vaksin tak perlu isolasi diri meski terpapar pasien COVID-19

Terakhir, harapan dan pencegahan kekambuhan dengan mengembangkan tujuan, memahami arti cobaan kehidupan dan menemukan makna hidup.

“Kunci dalam CBT merupakan journaling atau menulis jurnal menggunakan kertas dan pulpen untuk mengembalikan seseorang pada kesadarannya. Kami berikan pengalaman baru, ingatan baru bahwa cara menghadapi trauma mau berbeda, melupakan trauma,” tutur Era.

Baca juga: Melihat foto-foto lama apat juga buat bahagia, kata psikolog

Rekomendasi psikolog

Psikolog yang aktif dalam kegiatan Lembaga Perlindungan Korban dan Saksi (LPSK), Dinuriza Lauzi merekomendasikan penyembuhan diri sendiri melalui pendekatan psikospiritual.

Menurut dia, pengalaman atas peristiwa negatif misalnya dengan didiagnosais COVID-19 apat juga dijadikan sumber kekuatan, lebih positif saat seseorang merasa kondisinya sedang tidak berdaya.

Ada empat hal yang apat juga dilakukan untuk pasien. Pertama, memberi dorongan doa yakni bagaimana memberikan program pada pasien atau sebaliknya, pasien membikin program untuk dirinya sendiri.

“Tenaga kesehatan di rumah sakit apat juga memberikan semacam motivasi pada pasien supaya melakukan program pada dirinya sendiri supaya dia merasa mempunyai ketenangan. (Apat juga dengan ayat-ayat suci al-qur’an atau kitab suci lainnya),” tutur Niza.

Kedua, afirmasi yakni bagaimana menyampaikan berulang-ulang setiap bangun tidur misalnya hadist apabila pasien muslim untuk meningkatkan ketenangan dan harapannya.

Ketiga, self talk yakni berdialog antara pasien dan Tuhan-nya misalnya permohonan supaya disembuhkan Sang Pencipta. Niza mengatakan, sesi ini difokuskan pada bagaimana perasaan secara psikologis seorang pasien menumbuhkan pengalaman spiritualnya.

Terakhir, meditasi yang lazimnya dimaknai dengan duduk bersila, memejamkan mata, menenangkan diri misalnya dengan mendengarkan suara burung berkicau dan sebagainya. Tetapi dalam konteks pasien COVID-19, mereka apat juga diajak berdzikir bila muslim sebagai bentuk praktek meditasinya atau memanjatkan doa Rosario bagi pasien beragama Katolik.

BACA JUGA:  IJN perkenalkan gelombang sonic untuk obati atherosclerosis

Niza menuturkan, saat seseorang didiagnosis COVID-19, maka muncul turbulensi psikologis. Saat itu muncul keterkaitan antara kesendirian dengan hubungan vertikal kepada Tuhan-nya misalnya melalui pertanyaan, “mengapa apat juga saya yang kena”?.

“Ketika seseorang terdiagnosis COVID-19, maka pendekatan psikospiritual yang perlu dilakukan, memaknai pemikiran pasien terhadap bagaimana dia menyikapi kondisi medisnya. Kondisi pasien dalam kesendirian menumbuhkan kontak batin, connecting banget sama Tuhan-nya. Dia butuh pegangan yang kuat supaya masih mempunyai harapan untuk hidup,” demikian kata dia.

Baca juga: Doktor UI teliti interaksi Ibu-Anak pada anak ‘down syndrome’

Baca juga: Pandemi buat warga memiliki pandangan berbeda soal kebahagiaan

Baca juga: Hubungan ibu-anak yang baik apat juga hindarkan perilaku negatif

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *