BI pastikan arah kebijakan moneter bakal longgar di tahun 2021, ini tanggapan ekonom

  • Whatsapp
1361711733p

ILUSTRASI. Bank Indonesia. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo .

Read More

RUMAHPUTIH.COM – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) kembali menekankan bahwa arah kebijakan moneter di tahun 2021 merupakan suku bunga rendah dan likuiditas longgar, sampai ada tanda tekanan inflasi meningkat. Dalam hal suku bunga acuan yang rendah, BI sudah menurunkan suku bunga acuan hingga 3,75% pada tahun 2020 terus. 

Dalam hal likuiditas longgar, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, hingga 4 Februari 2021 BI sudah melakukan quantitative easing (QE) sebesar Rp 14,16 triliun, melanjutkan guyuran likuiditas yang telah dilakukan pada tahun 2020 yang sebesar Rp 726,6 triliun atau setara 4,71% PDB. 

Dengan situasi terkini, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira melihat, BI kemungkinan mengurangi kebijakan longgarnya. 

Hal ini didorong beberapa alasan. Pertama, terkait dengan pergerakan inflasi. Bhima melihat, saat ini Indonesia sedang memasuki musim hujan dengan curah hujan yang tinggi. Tak hanya itu, ada beberapa daerah yang mengalami bencana alam. Belum lagi, ada peningkatan harga komoditas pangan internasional. 

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri prediksi neraca dagang Januari 2021 surplus US$ 1,65 miliar

“Ini apat juga mendorong inflasi yang lebih tinggi. Khususnya, menjelang Ramadhan. Kebijakan pelonggaran BI bakal berkurang. Jadi, arahnya pengetatan, bukan hanya soal likuiditas, tetapi suku bunga acuan apat juga meningkat,” kata Bhima kepada Kontan.co.id.

Kedua, ada kekhawatiran taper tantrum, ketika bank sentral negara maju melakukan kebijakan tapering off. Meski, saat ini belum tahu kapan , tetapi Bhima sudah melihat ada indikasi inflasi yang meningkat di Amerika Serikat (AS) juga kenaikan permintaan agregat. Dapat jadi, tapering off terjadi lebih cepat. 

BACA JUGA:  Akun Twitter Kemenkeu diretas, warganet diminta tidak klik link yang dikirim

Ketiga, masalah kapasitas BI dalam menggelontorkan likuiditas. BI sudah cukup besar dalam menyediakan likuiditas di tahun 2020. Bhima pun mempertanyakan, seberapa kuat BI mau melakukan “cetak uang” ini? Karena, kalau berlebihan apat juga mengganggu kapasitas ke depan. 

Lebih lanjut, Bhima pun menyarankan saat ini kebijakan yang lebih perlu dilakukan oleh bank sentral merupakan dengan mengendalikan harga pangan bersama dengan dengan Tim Pengendalian Inflasi baik pusat maupun daerah. 

“Khususnya, mengawasi kelangkaan pasokan dan gangguan distribusi pangan baik pangan dalam negeri maupun impor. Pekerjaan rumah inflasi mau jadi topik utama sisi moneter hingga akhir tahun,” tandasnya. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda mau menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang apat juga digunakan berbelanja di KONTAN Store.



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *