Pandemi COVID-19 ciptakan tren baru di industri fesyen

  • Whatsapp
bed 1979270 1920
Jakarta (RUMAHPUTIH) – Pandemi COVID-19 menciptakan kebiasaan dan tren baru di masyarakat, di antaranya merupakan peralihan belanja luring ke daring serta memilih busana yang hanya sesuai kebutuhan. 

Ketua Nasional Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma mengatakan sejak pandemi daya beli masyarakat terhadap produk fesyen jauh menurun. Butik-butik atau toko pakaian sepi pengunjung dan sebagian besar lebih memilih untuk belanja secara daring.

Ali menilai kebiasaan ini pun bakal terus berlanjut meski pandemi tuntas, karena belanja secara daring menawarkan bermacam kemudahan.

“Walaupun kita kangen juga dengan event offline tapi kebiasaan dan kemudahan-kemudahan yang kita dapat secara online bakal terus berlanjut nantinya dan terdevelope ke yang lebih advance lagi,” kata Ali saat dihubungi RUMAHPUTIH pada Senin.

Baca juga: Langkah segarkan fesyen di 2021 ala Likee

Baca juga: “Loungewear” masih jadi tren di 2021

Anak-anak muda lebih nyaman berbelanja online, karena kebanyakan dari mereka lebih memilih menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan lain dibandingkan harus datang ke toko.

“Sekarang belanja itu sudah bukan leisure atau senang-senang lagi. Mereka bisa juga lihat 100 baju tapi yang dipilih cuma satu, kalau offline kan enggak, mereka jadi bisa juga saving waktu, energi dan banyak special offer juga,” ujar desainer yang basis di Bali ini.

Pandemi juga menciptakan gaya hidup baru khususnya di bidang fesyen. Hal ini ternyata sangat berpengaruh tren busana dan strategi para pegiat fesyen dalam menjual produknya.

Selama pandemi, Ali melihat banyak masyarakat yang mencari busana multifungsi yang dapat digunakan untuk acara santai ataupun bekerja.

“Sekarang warga beli baju karena memang perlu saja, contohnya ada keperluan khusus kayak bisa juga baju yang di tempat AC nyaman, di outdoor nyaman, kayak pakaian yang lebih stylish yang lebih unik dibanding lazimnya,” ujar Ali.

BACA JUGA:  Perhatikan tiga pola pengasuhan anak ini di era digital

“Sekarang anak-anak muda banyak yang pakai kayak baju tidur tapi lebih trendy, lebih matching atas bawah, nyaman, bisa juga jalan-jalan pakai itu. Itu pengaruh pandemi,” imbuhnya.

Untuk dapat bertahan di industri fesyen, para desainer akhirnya menjadikan busana sesuai dengan keinginan masyarakat.

“Kita bisa juga survive kalau semacam menjual produk fesyen yang menyesuaikan karena lagi diperlukan,” kata Ali.

Ali mengatakan tahun 2021 belum menunjukan perubahan pada industri fesyen, tetapi dia berharap supaya kegiatan seperti pagelaran busana bisa juga dilaksanakan secara offline.

Baca juga: Dapat belanja fesyen dan kuliner Danau Toba di Tangerang

Baca juga: Noore Sport Hijab dapat pendanaan Hypefast

Baca juga: Empat tren fesyen yang diprediksi populer tahun 2021

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *