Ekonom Indef beberkan kenapa insentif PPnBM mobil tak efektif ungkit ekonomi

  • Whatsapp
258776885p

ILUSTRASI. Ekonom Indef beberkan kenapa insentif PPnBM mobil tak efektif ungkit ekonomi

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Noverius Laoli

Read More

RUMAHPUTIH.COM – JAKARTA. Menteri Koordinasi (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah mau memberikan insentif PPnBM mobil selama sembilan bulan, mulai dari 1 Maret 2021. Adapun jenis mobil yang disuntik insentif PPnBM yakni mobil sedan 4×2 kurang dari 1.500 cc. Insentif fiskal ini diberikan dalam tiga tahapan.

Periode pertama yakni 1 Maret-1 Juni 2021 diskon PPnBM yang diberikan sebesar 100%, alias dibebaskan. Periode kedua, potongan PPnBM sebesar 50% diberikan pada 2 Juni-1 September 2021. Periode ketiga, diskon PPnBM sebesar 30% pada 2 September-1 Desember 2021.

Airlangga menyampaikan, insentif PPnBM mobil diharapkan apat juga mendorong pertumbuhan industri manufaktur, karena kontribusinya sektor ini ke produk domestik bruto (PDB) sebesar 19,88%. Tetapi demikian, Menko tidak menginformasikan besaran pertumbuhan sektor manufaktur yang apat juga ditimbulkan konsekuensi pemberian insentif PPnBM mobil.

Dirinya, hanya meyakini PPnBM mobil apat juga mendorong dunia usaha. Airlangga menghitung insentif fiskal ini dapat meningkatkan produksi mobil mencapai 81.752 unit. Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikondo) manargetkan tahun ini produksi mobil apat juga mencapai 750.000 unit.

Baca Juga: Relaksasi PPnBM mobil baru dinilai berpotensi tunda implementasi mobil listrik

Artinya, insentif PPnBM mobil mampu menstimulus produksi mobih hingga 10,9% menjadi 831.752 unit. “Industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang terkena dampak pandemi Covid-19 paling besar.  Untuk meningkatkan pembelian dan produksi Kendaraan Bermotor (KB),” kata Airlangga, Kamis pekan terus.

BACA JUGA:  Lagi! Varian baru Covid-19 B1525 ditemukan di Inggris, berpotensi mengkhawatirkan

Ekonom Senior Institur for Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan insentif fiskal tersebut mau berdampak minim secara makro ekonomi. Mengingat, kontribusi sektor otomotif terhadap PDB pada umumnya di bawah 10%. 

Menurutya, pertumbuhan sektor otomotif yang mencerminkan leading indicator barang-barang sekunder dan primer ini tidak memiliki multiplier effect yang signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Terlebih komponen terbesar PDB yakni konsumsi rumah tangga.

“Jadi menstimulus konsumsi masyarakat yang mana, masalahnya sekarangkan lagi pandemi, seharusnya tetap fokus ke perlindungan sosial untuk mendorong PDB,” kata Enny kepada Kontan.co.id, Senin (15/2).

Baca Juga: Insentif PPnBM mobil dinilai tidak efektif ungkit pertumbuhan ekonomi

Sementara, dari sisi perdagangan internasional, Enny mengatakan dampaknya juga kecil karena komponen bahan baku mobil mayoritas impor.

Di sisi lain Enny mengatakan, sektor manufaktur lain seperti industri tekstil serta industri makanan dan minuman (mamin) justrus butuh insentif fiskal. Menurut Enny, kedua sektor ini memiliki rantai pajak yang panjang, sehingga barang yang sampai ke tanggan masyarakat umumnya berkali-kali lipat.

“Seharusnya kalau mau buat insentif baru yang apat juga mendukung konsumsi dan memang untuk kebutuhan pokok masyarakat,” ujar Enny.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda mau menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang apat juga digunakan berbelanja di KONTAN Store.



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *