Rekomendasi asupan daging untuk pasien kanker prostat

  • Whatsapp
steak 3640560 1280
Jakarta (RUMAHPUTIH) – Staf medik Departemen Medik Urologi RSCM-FKUI, dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid mengatakan, pasien kanker prostat tak perlu takut mengonsumsi daging termasuk saat perawatan penyakitnya.

“Pasien masih boleh makan daging? Ya boleh karena ada sumber protein yang bagus dari hewan. Yang kami tekankan diet seimbang. Memang ada beberapa risiko lemak terlalu banyak tidak disarankan,” ujar dia dalam virtual media briefing bertepatan dengan peringatan Worl Cancer Day 2021, Rabu.

Baca juga: Mengompol kerap dialami pasien usai operasi kanker prostat

Menurut dia yang juga menjabat konsultan Dokter Spesialis Uro-Onkologi Siloam Hospitals ASRI itu, pasien perlu memilih daging yang tidak mempunyai banyak lemak dan memperhatikan porsi dagingnya sehingga melebihi kebutuhan protein tubuhnya.

Daging termasuk salah satu sumber protein hewani yang pasien butuhkan dalam pengobatan kankernya, salah satunya berperan menyembuhkan luka usai pembedahan.

“Pengobatan kanker seperti operasi, (pasien) membutuhkan penyembuhan luka, kalau kita tidak support protein dengan baik, luka tidak sembuh malah mau menimbulkan komplikasi,” tutur dia.

Lebih lanjut mengenai pola makan, Agus menyarankan penanganan multidisiplin termasuk melibatkan ahli gizi klinik untuk menentukan pola diet terbaik karena antar satu pasien dengan yang lainnya apat juga berbeda.

Dia menyoroti risiko kekurangan gizi yang apat juga terjadi pada pasien yang terlalu fokus pada makanan yang dipantang. Supaya kondisi ini tak terjadi, dia menyarankan pasien mengatur pola makannya termasuk dalam menambah asupan sayur-mayur dan buah hariannya dan mewaspadai konsumsi lemak berlebihan.

Dalam kesempatan itu, dokter spesialis urologi di Departemen Medik Urologi di RSCM-FKUI, Dr. dr. Nur Rasyid, mengatakan kanker prostat apat juga muncul saat seorang pria berusia muda yakni di usia 50 tahun, berupa peradangan prostat, pembesaran prostat jinak hingga kanker prostat.

BACA JUGA:  Imlek di rumah saja, intip jalan-jalan virtual ke Hong Kong

Masalahnya, antara gejala pembesaran prostat dan kanker prostat, sehinggga deteksi dini apat juga menjadi jalan keluar demi sekaligus mencegah kanker baru tertangani saat stadium lanjut.

“Deteksi dini apat juga dimulai dari keluhan, kemudian dilakukan colok dubur untuk meraba adakah kecurigaan kanker dan pemeriksaan darah berupa prostate-specific agent (PSA). Kalau ada kecurigaan, untuk memastikan dengan biopsi prostat,” kata dia yang menjabat sebagai Ketua ASRI Urology Center (AUC) Siloam Hospitals ASRI.

Agus menambahkan, kanker stadium awal pada umumnya tidak bergejala. Saat muncul keluhan seperti kesulitan buang air besar, ada darah dalam urine, sakit tulang hingga disfungsi ereksi umumnya menandakan kanker sudah masuk stadium tinggi.

Bila sudah begini, Agus menyarankan biopsi untuk menegakkan diagnosisnya sehingga penanganan apat juga lebih cepat dilakukan.

Baca juga: Kak Seto mau jalani operasi kanker prostat

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *