Fintech berpotensi besar akselerasi pemulihan ekonomi nasional

  • Whatsapp
20190521 173149

Dalam program pemulihan ekonomi nasional ini, room to improve-nya masih besar sekali, karena ini jumlah platform yang ikut berpartisipasi juga masih sangat sedikit, baru sekitar 10 persen…

Jakarta (RUMAHPUTIH) – Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama dengan Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, mengatakan teknologi finansial (fintech) berpotensi besar mempercepat pemulihan ekonomi naisonal.

Kuseryansyah mengungkapkan sebanyak 148 platform fintech yang bernaung di bawah AFPI telah menyalurkan Rp259 miliar, akan tetapi baru 10 persen yang bergabung dalam program pemulihan ekonomi nasional.

“Dalam program pemulihan ekonomi nasional ini, room to improve-nya masih besar sekali, karena ini jumlah platform yang ikut berpartisipasi juga masih sangat sedikit, baru sekitar 10 persen platform yang ikut program pemulihan ekonomi nasional. Masih ada puluhan sampai lebih dari seratus peluang,” ujar Kuseryansyah dalam acara virtual mengenai teknologi finansial, Rabu.

Baca juga: AFPI: Tren pencairan pinjaman fintech lending naik 27 persen pada 2020

Dia meyakini mau semakin banyak platform fintech yang turut ambil bagian dalam program pemulihan ekonomi nasional secara resmi melalui kerja sama dengan bank-bank jangkar.

Kuseryansyah melihat progres dari kerja sama fintech layanan pinjam meminjam peer to peer lending (P2P lending) dengan bank jangkar semakin hari semakin baik.

“Berdasarkan data dari Daily Social di survei kami yang terus, kurang lebih sekarang dana dari bank itu ialah 28 persen dari total penyaluran,” kata Kuseryansyah.

Hal ini juga, menurut Kuseryansah, menjadi sinyal baik, sekaligus menjawab kekhawatiran warga di masa terus bahwa fintech mau mendisrupsi bank atau layanan multi-finance di Indonesia.

Baca juga: Pemerintah gandeng asosiasi fintech genjot ekonomi digital nasional

Terlebih, fintech P2P lending mempunyai kemampuan menjangkau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Berdasarkan data AFPI, sebanyak 45 persen dari total platform anggotanya memberi pembiayaan di bawah Rp50 juta.

BACA JUGA:  Riset: Tokopedia "e-commerce" yang tersering dikunjungi di Indonesia

Sementara pinjaman dengan nilai di atas Rp500 juta hanya berjumlah 8,3 persen dari total platform fintech anggota AFPI.

Kolaborasi fintech dan bank jangkar juga dinilai menjadi solusi, karena Indonesia mempunyai market yang sangat luas, yang juga menjadi tantangan industri fintech saat ini.

“Tentunya challenge bagi kami ialah bagaimana meningkatkan daya saing produk biar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat luas,” ujar Kuseryansyah.

Baca juga: Fintech syariah dorong Indonesia sebagai pusat produsen halal dunia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyarankan para platform fintech untuk tidak hanya memberikan layanan kepada masyarakat di Jawa, tapi juga di luar Jawa.

Meski daerah luar Jawa mempunyai potensi yang juga besar, menurut Kuseryansyah, permasalahan ada pada kendala terkait dengan infrastruktur.

“Infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktur dari ekosistem digital di sana tidak semaju di Jawa, itu juga merupakan tantangan,” kata Kuseryansyah.

“Ini juga merupakan PR bersama dengan, semua pemangku kepentingan harus turun kalau mau meningkatkan penetrasi fintech di luar Jawa, harus dibangun infrastruktur telekomunikasi, dan infrastruktur dari ekosistem digital di sana,” dia menambahkan.

Baca juga: Bantu UMKM, “fintech” Tokomodal salurkan pembiayaan Rp800 miliar

Baca juga: Penyaluran pinjaman fintech lending syariah tahun terus Rp1,7 triliun

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *