Cara Indonesia Investment Authority (INA) dorong pertumbuhan ekonomi Indonesia

  • Whatsapp
1524360700p

ILUSTRASI. Ridha DM Wirakusumah diperkenalkan sebagai Direktur Utama Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau CEO Indonesia Investment Authority (INA) oleh Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (16/2/2021).

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Noverius Laoli

Read More

RUMAHPUTIH.COM –  JAKARTA. Pemerintah telah menetapkan Dewan Direktur Lembaga Pengelola Investasi (LPI), Selasa (16/2). Lembaga yang dinamai Indonesia Investment Authority (INA) ini telah menyusun daftar proyek yang mau dibiayai melalui investasi asing atau foreign direct investment (FDI).

Direktur Utama INA Ridha DM Wirakusumah mengatakan fokus utama INA di tahun pertama yakni mengerjakan proyek infrastruktur antara lain toll roads, bandara, pelabuhan, hingga infrastruktur di sektor jasa lainnya.

“Yang ingin saya sampaikan memang pertama-tama ialah sektor infrastruktur. Itu banyak sekali, walau saya tidak bisa juga ungkapkan dulu yang mana. Di pipeline kami sih banyak sekali. Tol yang mau kita jalankan dulu, baru nanti sisanya,” ungkap Ridha di Kompleks Instana Kepresidenan, Selasa (16/2).

Kata Ridha proyek infrastruktur terutama jalan tol memiliki multiplier effect besar terhadap perekonomian. Sehingga, diharapkan dapat menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi mulai tahun ini.  Dus, INA bisa juga ikut mendorong laju ekonomi 2021 sebagaimana target pemerintah di level 5% year on year (yoy).

Baca Juga: Investor masih wait and see, berikut proyeksi IHSG hari ini, Rabu (16/2)

Adapun selain infrastruktur, ke depan INA mau mengembangkan sektor potensial lainnya seperti kesehatan, pariwisata, serta sektor potensial lainnya. “Tentunya kita mau melihat secara seksama untuk memastikan bahwa proyek-proyek itu betul-betul bisa juga membawa good for us and also for our co-investors,” ucap  Ridha.  

BACA JUGA:  Menkes: Setelah vaksinasi, kasus Covid-19 pada tenaga kesehatan turun

Dari sisi permodalan, INA mau mengantongi dana awal sebesar Rp 75 triliun di tahun ini. Angka tersebut terdiri dari Rp 30 triliun cash yang berasal dari penyertaan modal negara (PMN) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2020 dan APBN Tahun Anggaran 2021. Sisanya, berupa inbreng saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan modal awal tersebut, INA menargetkan FDI yang mau terkumpul sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 280 triliun dalam satu hingga dua tahun ke depan. Modal asing tersebut masuk dalam dua skema yakni master fund dan thematic fund yang mau dibagi sesuai dengan bidang investasi.  

Baca Juga: INA beroperasi, ini rekomendasi analis untuk saham-saham BUMN karya

Direktur Eksekutif Institute for Development on Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan sovereign wealth fund (SWF) di banyak negara mayoritas menggunakan investasi asing untuk sektor telekomunikasi dan informasi, serta sektor keuangan. Karena, kedua sektor itu menguntungkan, serta memiliki prospek pertumbuhan sektor yang menjanjikan.

“Uang yang dikelola untuk infrastruktur dalam model SWF di negara lain lazimnya hanya sekitar 7% dari total dana yang dihimpun. Karena, sektor infrastruktur memiliki ketergantungan terhadap sektor lain,” kata Tauhid kepada Kontan.co.id, Rabu (17/2).

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda mau menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa juga digunakan berbelanja di KONTAN Store.



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *