Facebook Dinilai sebagai Pengganggu Demokrasi

  • Whatsapp
facebook dinilai sebagai pengganggu demokrasi ST7UTwgFhH

WASHINGTONAksi blokir semua konten berita oleh Facebook di Australia, menimbulkan reaksi bermacam kalangan, dari mulai politisi, media hingga masyarakat sipil di Inggris dan Amerika Serikat.  

Facebook menghentikan sebanyak 18 juta penggunanya di Negeri Kanguru untuk memperoleh akses berita di platformnya. Langkah ini dianggap sebagai pengganggu demokrasi dan upaya semoga negara patuh kepada perusahaan.

Sikap itu sebagai respon penolakan aturan baru di Australia, yang mewajibkan Facebook membayar semua konten berita yang muncul di platformnya.

Baca Juga: Facebook Batasi Iklan Politik di Indonesia

Padahal, Google yang juga diberlakukan aturan serupa telah memilih upaya preventif dengan menjadikan kesepakatan bersama dengan perusahaan-perusahaan media di Australia.

Melansir dari The Guardian, Jumat (19/2/2021), Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengatakan sikap Facebook merupakan arogansi sekaligus mengecewakan.

Baca Juga: Lontarkan Ujaran Kebencian saat Live di Facebook, Perempuan Ini Ditangkap 

Sedangkan Julian Knight, ketua komite digital, budaya, media, dan olahraga parlemen Inggris, menyebut tindakan yang dilakukan Facebook di Australia bakal memicu sikap yang lebih jauh lagi terhadap pemerintahan di seluruh dunia.

Menurut Knight, raksasa teknologi sudah seharusnya diatur oleh pemerintah dan membayar setiap konten yang muncul di platformnya.

Sementara itu, David Cicilline, ketua komite antitrust di AS, menilai langkah yang diambil Facebook tidak sesuai dengan demokrasi.

“Mengancam semoga seluruh negara bertekuk lutut untuk menyetujui aturan Facebook ialah pengakuan puncak dari kekuatan monopoli,” tulis politikus Partai Demokrat AS itu, melalui akun Twitter pribadinya.

(amr.-)

BACA JUGA:  Kominfo terapkan strategi pembangunan infrastruktur digital menyeluruh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *