Pemerintah mau bangun gudang penyimpanan di Hungaria, ini kata pengusaha

  • Whatsapp
625880450p

ILUSTRASI. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani.

Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Khomarul Hidayat

Read More

RUMAHPUTIH.COM – JAKARTA. Pengusaha menanggapi rencana pembuatan gudang penyimpanan dan pusat distribusi atau stockpile di Hungaria untuk mendorong ekspor Indonesia.

Rencana tersebut memang mempunyai dampak positif dalam membuka pasar baru ekspor. Akan tetapi, pembuatan stockpile mempunyai banyak pertimbangan mudah-mudahan dapat memberi keuntungan.

“Sebetulnya ide ini positif untuk pembukaan pasar baru tetapi risikonya besar,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (19/2).

Shinta bilang, penetrasi pasar, volume, dan frekuensi perdagangan menjadi pertimbangan pertama. Pembangunan stockpile dinilai tidak efektif bila penetrasi pasar masih rendah serta volume dan frekuensi kecil.

Baca Juga: Neraca pembayaran Indonesia (NPI) kuartal IV-2020 defisit US$ 0,2 miliar

Oleh karena itu, penetrasi pasar di pasar tujuan harus dilakukan terlebih dahulu. Terutama bila lokasi gudang bukan tempat konsumen akhir dari produk yang ada.

“Semoga flow distribusi stockpile-nya relatif lancar dan tidak mengendap terlalu lama sehingga menciptakan kerugian dagang yang tinggi,” terang Shinta.

Pertimbangan lain dalam rencana stockpile berkaitan dengan jenis produk yang mau disimpan. Shinta bilang, produk ekspor Indonesia ke Eropa merupakan produk yang rentan rusak atau rentan mengalami penurunan harga bila disimpan dalam waktu lama.

Shinta juga menyebut lokasi Hungaria sebagai salah satu pertimbangan. Meski Hungaria mempunyai potensi menjadi hub karena berada di tengah Eropa, tetapi Hungaria diapit oleh daratan sehingga pengiriman menggunakan pesawat bukan kapal.

BACA JUGA:  Sri Mulyani perpanjang bea masuk anti dumping impor BOPET asal India, China, Thailand

“Hungaria itu negara landlocked, sementara kita banyak mengekspor dengan shipment bukan kargo udara,” jelas Shinta.

Hungaria juga dipandang bukan sebagai konsumen akhir bagi produk Indonesia. Negara konsumen akhir dari produk ekspor mayoritas berada di Eropa Barat.

Biaya dalam stockpile pun menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha. Shinta bilang, pelaku usaha berhemat dalam membuka pasar baru di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Pembukaan pasar baru tersebut juga mempunyai risiko tinggi. Salah satu risiko yang dikhawatirkan berkaitan dengan gagal bayar oleh karena itu pelaku usaha belum tentu mau memanfaatkan gudang dam pusat distribusi tersebut.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda mau menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang dapat digunakan berbelanja di KONTAN Store.



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *