Membikin sayur jadi menggiurkan untuk si kecil

  • Whatsapp
pexels cottonbro 3972200
Jakarta (RUMAHPUTIH) – Kesan pertama penting dalam setiap perkenalan, termasuk ketika anak mulai berkenalan dengan sayur-mayur pertama dalam hidupnya.

Tak jarang orangtua menghadapi anak yang pemilih soal makanan dan sulit dibujuk untuk mengonsumsi sayur, padahal ahli gizi Luciana B. Sutanto mengatakan dalam sepiring makan anak sebaiknya ada 30 persen sayur mayur dan buah.

“Pilih sayur pertama untuk anak yang agak manis, dimasak matang biar rasanya enak dan empuk,” kata Dokter Spesialis Gizi Klinik dan President of Indonesian Nutrition Association (INA) dalam webinar, dikutip Minggu.

Baca juga: Cara potong sayur-mayur untuk maksimalkan nilai gizinya

Baca juga: Diet sehat dengan konsumsi buah dan sayur fermentasi

Bila anak sudah memiliki kesan pertama yang buruk terhadap sayur-mayur, bakal lebih sulit untuk membujuknya memakan sayur di kemudian hari. Oleh karena itu, orangtua harus pintar-pintar memilih jenis sayur-mayur yang bakal disukai.

Misalnya wortel yang penuh vitamin A dan membantu menjaga kekebalan tubuh atau labu yang pada dasarnya berbahan lembut cocok untuk makanan pertama anak, orangtua juga dapat memasak ubi yang mengandung serat, vitamin C dan vitamin B6. Jangan lupa untuk menjadikan teksturnya benar-benar halus dan buang kulitnya sebelum diberikan kepada anak.

Untuk anak yang sudah lebih besar tapi masih anti melihat sayur-mayur yang masih berbentuk seperti aslinya, orangtua dapat mengakali dengan mencincang atau memarut sayur-mayur dan menyelipkannya ke dalam isi piring, entah di dalam bola nasi, bakso atau kentang tumbuk. Aktris Alyssa Soebandono merupakan salah satu contoh ibu yang berpikir kreatif dalam menghadapi anak yang pemilih soal makanan.

Semenjak memberikan makanan pendamping ASI untuk buah hati, dia selalu berupaya memasak menu yang variatif biar anak tidak bosan dan berselera makan. Untuk menyiasati biar anak mau makan sayur, Alyssa lazimnya mencincang sayur terus menyelipkan ke dalam makanan buah hati.

BACA JUGA:  Cantik di luar nyaman di dalam, tren busana era pandemi

Memberi asupan gizi yang seimbang untuk anak, terutama pada usia lima tahun pertama, merupakan hal krusial. Karena, bila nutrisi yang tidak tercapai menjadikan pertumbuhan buah hati jadi tidak optimal. Salah satu risiko yang dapat terjadi merupakan stunting, masalah gizi kronis imbas kurang asupan gizi dalam jangka waktu lama.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan 30,8 persen atau sekitar 7 juta balita menderita stunting dibanding data pada 2013 yang memperlihatkan stunting balita mencapai 37,2 persen.

Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017 yaitu mencapai 36,4 persen. Sedangkan menurut data Riskesdas 2018, angka stunting di Indonesia menurun hingga 23,6 persen.

Baca juga: Buah dan sayur ini mengandung lebih banyak vitamin C dibanding jeruk

Baca juga: Jaga suasana hati dengan buah, sayur dan makanan kesukaan

Baca juga: Pola makan terbaik biar pria tak kena disfungsi ereksi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *