Lima potensi prestasi yang harus diperhatikan pada tumbuh kembang anak

  • Whatsapp
pexels pixabay 159579
Jakarta (RUMAHPUTIH) – Patokan perkembangan anak bukan semata tentang tinggi badan saja, orangtua harus memperhatikan perkembangan fisik, kognitif dan sosioemosional buah hati.

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani menegaskan, potensi prestasi itu harus berkembang bersama dengan dan setara.

Dari aspek fisik yang perlu diperhatikan merupakan apakah anak tumbuh tinggi sesuai grafik pertumbuhan, terus dari segi kognitif merupakan kemampuan anak untuk berpikir cepat, kemudian dari aspek sosioemosional yang harus diperhatikan merupakan bagaimana keyakinan diri anak, kemampuan bersosialisasi dan ketangguhan buah hati.

“Supaya apat juga berkembang optimal, anak butuh nutrisi lengkap dan stimulasi yang tepat,” kata psikolog di Lembaga Assesmen dan Intervensi Psikologis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dalam webinar, dikutip Senin.

Baca juga: Dude Harlino turut aktif mengasuh anak

Baca juga: Pendidikan untuk anak usia dini harus tetap berjalan di tengah pandemi

Anna menjelaskan dampak asupan nutrisi yang kurang serta stimulasi yang tidak tepat terhadap perkembangan psikologis anak. Jika asupan nutrisi tidak optimal, tinggi serta berat badan tidak sesuai perkembangan tahap usianya, juga merasa mudah lelah dan lemas serta kualitas tidur berkurang.

Dari segi kognitif, anak yang kurang nutrisi dan stimulasi bakal sulit berkonsentrasi sehingga daya tangkapnya rendah. Akibatnya, anak jadi mudah lupa dan prestasinya pun rendah. Ini juga mempengaruhi sosioemosional buah hati, karena anak apat juga jadi mudah marah, sulit mengendalikan emosi dan minder atau sulit bergaul sampai mengalami masalah kesehatan mental.

Anna memberikan kiat untuk orangtua supaya apat juga memberikan stimulasi yang sesuai demi tercapainya potensi prestasi anak. Mudah-mudahan tumbuh kembang fisik anak optimal, sediakan area di rumah di mana anak bebas bergerak secara aman.

BACA JUGA:  Kolaborasi produk perawatan dan air mineral untuk hidrasi kulit

“Walau rumah kecil, buat area di mana anak apat juga berguling-guling atau loncat-loncat secara aman,” tutur dia.

Perbanyak aktivitas fisik untuk anak, sesederhana memanfaatkan bola untuk bermain sepak bola hingga lempar tangkap. Orangtua juga apat juga melibatkan anak dalam kegiatan rumah tangga untuk melatih kemampuan motorik, juga ajari dia untuk melakukan hal-hal seperti mandi dan menggunakan baju sendiri.

Untuk urusan berpikir cepat dan aktif bersosialisasi, orangtua apat juga melakukan stimulasi dengan sering bercengkrama dengan anak, sering mengobrol menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang sekitarnya.

Bila lingkungan sekitar berbahasa Indonesia, ajak anak bicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika ingin mengajari dua bahasa, sebaiknya jangan dicampur-campur. Bacakan juga buku sesuai usianya, terus ajak mengamati lingkungan seperti melihat hal-hal di sekitar rumah. Ajak juga anak bermain teka-teki.

Baca juga: Waspada anemia pada anak, pastikan asupan gizi terpenuhi

Baca juga: Ide mainan edukasi anak di kala WFH

Anak apat juga semakin percaya diri bila diberi kesempatan untuk memilih, misalnya baju apa yang ingin dipakai. Sebelumnya orangtua apat juga menyediakan dua pilihan, terus anak bakal memilih mana yang ingin dia kenakan. Saat anak melakukan hal baik, beri pujian secara spesifik pada perilakunya.

Dorong pula anak untuk menghadapi kesulitannya sendiri supaya dia apat juga belajar menyelesaikan masalah. Juga, kurangi celaan dan kemarahan berlebihan karena apat juga menjadikan anak merasa kecil hati dan mempengaruhi keyakinan dirinya.

Mudah-mudahan anak semakin aktif bersosialisasi, jangan lupa rajin melakukan kontak mata dengan buah hati. Ketika mengobrol, letakkan dulu gawai atau perangkat lain yang jadi distraksi.

Tatap mata anak secara hangat, jangan sampai anak nantinya jadi malu-malu ketika bersosialisasi dengan teman-temannya kelak. Terus, berilah respons positif ketika anak bergaul dan ajari menebak emosi warga lain. Orangtua apat juga menonton film bersama dengan anak, setelah itu mengajak anak menebak apa yang dirasakan oleh tokoh tertentu setelah mengalami sebuah kejadian.

BACA JUGA:  Ahli: Rayakan Imlek di rumah saja dan perketat prokes

“Lakukan juga roleplay atau bermain peran supaya sosialisasi terlatih,” lanjut dia.

Ketangguhan anak pun apat juga diasah dengan cara bersabar menunggu si kecil berproses. Ajari anak bahwa ada konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya, anak tidak sengaja menumpahkan minuman.

Ajak dia untuk membereskannya sendiri alih-alih menyuruh asisten rumah tangga. Setelah itu beri tingkatan target kemampuan secara bertahap, jangan lupa berikan apresiasi ketika anak berhasil menyelesaikannya.

“Orangtua juga harus jadi contoh pribadi tangguh, kasih lihat kepada anak bahwa stres itu wajar asalkan apat juga dihadapi,” katanya.

Baca juga: Kiat warga tua buat konten edukatif untuk anak

Baca juga: Membikin sayur jadi menggiurkan untuk si kecil

Baca juga: 11 faktor penentu terjadinya kehamilan kembar

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © RUMAHPUTIH 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *