BPJS Kesehatan catat surplus pada tahun terus, ini catatan YLKI

  • Whatsapp
242491292p

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Tendi Mahadi

RUMAHPUTIH.COM – JAKARTA. Pada tahun 2020, BPJS Kesehatan mencatatkan surplus arus kas Rp 18,7 triliun. Hal ini dipandang baik oleh Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. Meski begitu, dia pun memberikan sejumlah catatan kepada BPJS Kesehatan.

Read More

Pertama, dia berpendapat bahwa surplus arus kas ini harus dilihat apakah bersifat permanen atau hanya sementara. Pasalnya, di tengah Covid-19 kunjungan peserta JKN-KIS ke fasilitas kesehatan berkurang hingga 40%.

Menurutnya, ini harus diantisipasi, mengingat ada yang memproyeksi setelah keadaan kembali normal, maka peserta JKN-KIS yang kembali berobat membludak sehingga menyebabkan kondisi keuangan BPJS Kesehatan kembali collapse.

Baca Juga: Sejak 2016, penerimaan iuran BPJS Kesehatan meningkat dua kali lipat

“Nah ini harus ditengarai kalau nanti kemudian tidak permanen nanti ada lonjakan kunjungan, lonjakan tagihan kembali sehingga nanti finansialnya dapat goyang lagi, kita harap tidak seperti itu,” ujarnya.

Catatan berikutnya, meski sudah mengalami defisit, Tulus pun melihat bahwa posisi aset bersih minus sekitar Rp 6,3 triliun, sehingga menurutnya ke depan BPJS Kesehatan harus mampu memenuhi pasal 37 PP No. 84 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Aset Jamkesmas.

Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa kesehatan keuangan aset Dana Jaminan Sosial Kesehatan diukur berdasarkan aset bersih Dana Jaminan Sosial Kesehatan dengan ketentuan paling sedikit harus mencukupi estimasi pembayaran klaim untuk satu setengah bulan ke depan dan paling banyak sebesar estimasi pembayaran klaim untuk 6 bulan ke depan.  

BACA JUGA:  Ahok: Kalau mau kaya jangan jadi politisi!

Tak hanya itu, dengan surplusnya arus kas BPJS Kesehatan ini, dia pun meminta mudah-mudahan BPJS Kesehatan tetap memberikan layanan yang andal bagi para pesertanya.

“Sehingga saat ini atau ke depan nanti dengan kondisi yang semakin baik dari sisi finansial maka kami selaku konsumen tidak ingin ada berita-berita tentang ditolaknya peserta JKN karena rumah sakit penuh atau segala macam,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus Covid-19 diperkirakan capai 1,7 juta, begini kesiapan anggarannya

Karena itu, dia pun berharap BPJS Kesehatan turut mendorong rumah sakit memberikan pelayanan yang baik. Dia juga berharap tidak ada peserta JKN-KIS yang diminta untuk membayar obatnya sendiri.

Tak hanya itu, dia juga berharap ke depan tidak ada lagi antrian yang panjang untuk para peserta JKN-KIS, mendorong fasilitas kesehatan untuk menggunakan teknologi dalam melayani pasien atau peserta JKN-KIS,  hingga memperbanyak kanal pengaduan.

Menurutnya, dengan memperbanyak kanal pengaduan, maka peserta dapat lebih mudah memberikan masukan, aspirasi dan hingga pengaduan bila terdapat masalah dalam pelayanan fasilitas kesehatan.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda mau menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang dapat digunakan berbelanja di KONTAN Store.



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *